Ibu, Kau Selalu Saja Menutupi Kebohongan Dengan Senyummu

Ibu, Kau Selalu Saja Menutupi Kebohongan Dengan Senyummu - Ibu, sekilas kami menatap wajahmu yang terlihat letih dengan cucuran keringat, kami tahu bahwa Kau tak pernah henti-hentinya berkerja serta berusaha yang terbaik untuk anak-anakmu, pagi hingga malam di mana kami semua terlelap tidur pun Kau masih terus terbangun, menatap kami dengan penuh kasih sayang.

Ibu, doamu masih saja terdengar jelas di telinga kami, Kau panjatkan doa untuk kami setiap seusai sholat, di kala malam saat kami tertidur pulas pun Kau masih berdoa kepada Tuhan untuk kami, doamu selalu mengantar ke pergian kami dan selalu menghiasi hari-hari kami.

Ibu, Kau adalah sosok wanita kuat yang merawat kami dengan penuh kasih sayang, kami tak kan pernah bisa memahami seberapa besar kasih sayang yang Kau curahkan kepada kami, hanya saja kasih sayangmu membuat kami sadar bahwa kau adalah PEMBOHONG BESAR !!!

1. Ibu, kala itu Kau hanya memiliki sedikit makanan untuk kami, namun kamu berkata dengan lantang seolah tak terjadi apapun “Makanlah nak, aku masih belum lapar”. Dan di lain hari pada situasi yang sama, Kau masih berkata “Makanlah nak, ibu tadi sudah makan”. Kami baru sadar bahwa Kau pun lapar, namun Kau rela menahannya demi kami.

2. Ibu, kami masih ingat kala Kau menyisihkan beberapa potong daging yang hanya cukup untuk kami makan, lalu Kau tersenyum sambil berkata “Makanlah daging ini, ibu tidak suka makan daging

3. Ibu, setiap pagi Kau sibuk dengan dapurmu, lalu kau mencuci, membersihkan rumah, dan menyiapkan segala macam kebutuhan keluarga di rumah, bahkan tak jarang kau pun turut bekerja membantu ayah untuk mencari nafkah, namun senyum yang kau berikan seolah berkata “Ibu tidak lelah nak

4. Ibu, masih ingatkah engkau ketika kami meminta uang untuk membeli jajan, kau tersenyum dan berkata “Ini uangnya, ibu masih punya uang”, sedangkan posisi ekonomi keluarga kala itu benar-benar pas-pasan.

5. Ibu, kala kami terbaring sakit, kau pun masih tetap menjaga kami tak peduli seberapa letihnya engkau. Dan di tengah malam kami terbangun, kau mengusap kening kami, sambil tersenyum kau berkata “Tidurlah nak, ibu masih belum mengantuk

6. Ibu, kala kami sudah mulai bekerja dan mampu menghasilkan uang sendiri dengan keringat kami, sebagai salah satu bentuk balas budi, kami memberikan sebagian uang hasil kerja kami kepadamu, namun kau tersenyum dan berkata “Simpanlah uang ini nak, kamu jelas lebih membutuhkannya”, padahal kami tahu bahwa kau membutuhkannya.

7. Ibu, kala kami bisa membangun rumah tangga dan memberikan cucu untukmu, kami sadar bahwa beban yang kami tanggung cukuplah berat. Tetapi, tak pernah sedikit pun kami melupakan kasih sayang dan mencoba merawatmu, namun kau lagi-lagi tersenyum dan berkata “Tidak perlu, rawatlah keluargamu, aku masih bisa merawat diri sendiri”.

8. Ibu, berkat doamu kami menjadi anak yang sukses, kami bisa membangun rumah besar, kami bermaksud untuk mengajakmu tinggal di sana, tetapi kau tersenyum dan menolak “Aku masih merasa nyaman tinggal di gubuk ini nak”.

9. Ibu, kami begitu sedih saat melihatmu terbaring sakit, kami berusaha untuk menjagamu seperti kau menjaga kami di kala sakit, sambil menahan sakit kau masih saja tersenyum dan berkata “Istirahatlah nak, ibu tidak apa-apa”.


Mari renungkan kembali !!!

Tak peduli seberapa sukses dan seberapa kedewasaan yang kita miliki, di mata seorang Ibu, kita hanyalah anak kecil yang patut dikhawatirkan. Dia akan terus menyayangi meskipun kita sudah dewasa seperti dia menyayangi kita sewaktu kecil.

Kebohongan besar yang ibu lakukan untuk kita adalah bukti seberapa besar kasih sayangnya kepada kita, kita tak akan pernah bisa menyamai kasih sayang itu. Dalam satu sisi, ibu adalah wanita yang lemah dan rapuh, tetapi di sisi lain, dialah wanita yang kuat bagi anak-anaknya.

Ingatlah bahwa kesuksesan dan kebaikan apa yang kita miliki saat ini adalah berkat kasih sayang dan doa ibu. Jadi, jangan pernah sekali-kali kita mengecewakannya, sungguh beruntung bagi kita yang masih memiliki seorang ibu seutuhnya.