Kisah Sabar Nabi Ayub Menghadapi Penyakit Menjijikkan Selama 18 Tahun


Dikisahkan bahwa Nabi Ayub as dulu adalah bangsa Rum atau penduduk Romawi (tepatnya di Negara Suriah), beliau adalah orang yang cerdas, alim, penyabar, dan sangat bijaksana. Nama lengkap beliau adalah Ayub bin A’ish bin Ishak, dan merupakan cucu dari Nabi Ishak as, sedangkan ibu beliau adalah putri Nabi Luth as.

Pada masa itu, ayahanda Nabi Ayub as adalah pria yang kaya raya, pemilik banyak hewan ternak seperti sapi, kambing, unta, kuda, keledai, dan khimar. Saking kayanya, tidak ada orang sekaya ayah Nabi Ayub as di antara para penduduk Syam (salah satu kota di Negara Suriah). Sepeninggal ayahnya, tentu saja harta kekayaan beralih tangan ke Nabi Ayub as.

Nabi Ayub as memiliki 3 istri, yang salah satunya adalah istri sholehah bernama Rohmah bin Afroyam bin Yusuf, cucu dari Nabi Yusuf as. Nabi Ayub as dikarunia sebanyak 12 anak yang sholeh, yaitu 8 anak laki-laki dan 6 anak perempuan.

Dalam kisahnya, Allah SWT mengutus Nabi Ayub as untuk berdakwah kepada kaumnya, yaitu penduduk Hauran (Hawran atau Houran dalam wikipedia). Dalam proses dakwah, penduduk Hauran menyambut dan menerima ajakan Nabi Ayub dengan ramah dan kepercayaan yang besar. Hal ini dikarenakan Nabi Ayub as dan ayah beliau merupakan orang yang berkedudukan mulia dalam pandangan masyarakat.

Selain itu, Nabi Ayub as telah menancapkan nilai-nilai syariat Allah SWT dalam masyarakat Hauran, seperti membangun beberapa masjid, membantu kaum fakir, kaum miskin dan kaum dhuafa’, menyantuni anak-anak yatim, dan mengasihi para janda. Setiap tahunnya, harta Nabi Ayub as tidak berkurang sepeser pun, malah sebaliknya semakin bertambah dan semakin berkah. Harta-harta itu senantiasa beliau shodaqohkan kepada para kaum lemah dari waktu ke waktu.

Tidak pernah sedikit pun Nabi Ayub merasa senang dan bangga atas semua harta yang telah dishodaqohkan dan atas semua kebaikan beliau kepada orang lain. Dalam munajahnya, Nabi Ayub as berdoa, “Wahai Tuhanku, ini adalah pemberianmu kepada hamba-hamba-Mu dalam penjara dunia, (dengan penuh harapan) maka bagaimana pemberianmu nanti di rumah perjamuan-Mu di dalam surga kepada hamba-hamba yang Engkau muliakan”. Justru beliau senantiasa mengingat dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Namun, kedengkian Iblis terhadap amal kebaikan Nabi Ayub tidak terbendungkan, dia berniat untuk mencelakakan Nabi Ayub as di dunia dan di akhirat. Dia berkata “Ayub telah benar-benar mendapatkan dunia dan akhiratnya". (Mendapatkan dunia karena beliau telah mendapatkan nikmat dunia berupa harta, istri dan anak-anak, kebahagiaan, kehormatan, dan sebagainya. Mendapatkan akhirat karena beliau terjaga untuk senantiasa beribadah dan berdzikir kepada Allah tanpa terlupa keduanya. Iblis berencana untuk merusak nikmat yang diberikan kepada Nabi Ayub as, baik nikmat dunia dan nikmat akhirat, dan bahkan keduanya).

Pada saat itu pula, Iblis laknatullah pergi menuju langit ke tujuh. Allah SWT Dzat yang Maha mengetahui atas yang jelas dan yang samar, mengetahui apa isi hati iblis, berkata kepadanya “Wahai makhluk yang dilaknat, bagaimana pendapatmu tentang hamba-Ku Ayub, apakah kamu memperoleh sesuatu darinya ?”. Iblis menjawab “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Ayub menyembah kepadaMu karena Engkau memberinya keluasan (kekayaan) dan kesehatan di dunia, jika tidak karena semua itu maka ia tidak akan beribadah kepada-Mu !”.

Allah SWT membantah, “Kamu telah berdusta, karena sesungguhnya aku lebih mengetahui bahwa Ayub beribadah dan bersyukur karena Aku, meskipun dia tidak memiliki keluasan di dunia !”. Masih saja mengelak, Iblis pun berkata “Wahai Tuhanku, berikanlah aku kekuasaan terhadapnya, maka nantikanlah bagaimana aku akan membuat Ayub lupa untuk mengingat-Mu dan aku akan membuat Ayub sibuk sehingga dia lupa beribadah kepada-Mu !”. Allah SWT pun memberikan izin kepada Iblis dengan memberinya kekuasaan atas apa yang dimiliki Nabi Ayub as kecuali ruh dan lisan beliau.
[next]
Iblis pun kembali ke dunia dan pergi menuju tepi pantai. Dengan satu teriakan, ia berteriak keras sehingga tak ada satu pun dari golongan para jin kecuali mereka segera berkumpul dan datang di hadapannya. Golongan para jin pun terheran dan bertanya, “Gerangan apa yang sedang menimpamu, wahai tuan kami ?”.

Dengan penuh semangat dan kegembiaraan Iblis pun menjawab, “Aku telah mendapatkan sebuah kesempatan emas yang tidak pernah aku dapatkan sejak aku mengeluarkan Adam dari surga, maka aku bantulah aku untuk merusak Ayub !”.

Mendengar perintah dari Tuannya, para jin pun segera bubar dan bergegas menjalankan perintah itu. Para jin pun segera pergi menuju tempat tinggal Nabi Ayub as, mereka membakar dan merusak semua harta milik Nabi Ayub as. Beberapa waktu kemudian, Iblis datang menemui Nabi Ayub as, sedangkan pada saat itu beliau sedang melaksanakan sholat di dalam masjid.

Dengan rayuan menyesatkan, Iblis berkata kepada Nabi Ayub as, “Apakah kamu masih saja beribadah kepada Tuhanmu dalam kesusahnmu seperti ini, sedangkan Api telah diturunkan dari langit dan membakar semua hartamu menjadi abu ?”. Namun, Nabi Ayub pun tidak berbicara sepatah kata pun sampai beliau selesai mengerjakan sholat. Beliau berkata “Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan harta kepadaku kemudian Dia mengambilnya dariku”.

Kemudian Nabi Ayub as berdiri dan melanjutkan sholat beliau, sedangkan Iblis pun pulang dalam keadaan terabaikan, terkucilkan, dan penuh kehinaan. Meskipun semua harta Nabi Ayub telah terbakar menjadi abu, beliau pun masih senantiasa menjalankan ibadah dan dzikir kepada Allah layaknya tidak ada sesuatu yang menimpa beliau.

Di lain pihak, sudah menjadi kebiasaan bagi putra dan putri Nabi Ayub as ketika pagi hari untuk melakukan sarapan pagi di rumah saudara tertua beliau yang bernama Harmal. Dan pada suatu pagi saat putra-putri Nabi Ayub as tengah asyik sarapan pagi dirumah Harmal, tiada sangka bahwa sarapan pagi itu pun menjadi sarapan terakhir bagi mereka.

Para syetan dan jin yang berkumpul dan mengelilingi rumah itu pun merobohkan pondasi dan bangunan rumah. Tak tertolong lagi, semua putra-putri Nabi Ayub pun meninggal dunia di tempat. Di antara mereka ada yang meninggal dalam keadaan mengunyah makanan, ada yang meninggal dalam keadaan memegang gelas, dan lain-lain.

Beberapa waktu setelah kejadian itu, lagi-lagi Iblis datang menemui Nabi Ayub as yang sedang melakukan sholat di dalam masjid. Iblis berkata “Wahai Ayub, apakah kamu masih saja beribadah kepada Tuhanmu sedangkan anak-anakmu telah tertimbun bangunan rumah dan mereka semua mati!”.

Namun, Nabi Ayub as pun tidak berbicara sepatah kata pun sampai beliau selesai mengerjakan sholat. Selesai sholat, Beliau berkata “Wahai makhluk yang dilaknat, segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan harta kepadaku kemudian Ia mengambilnya dariku. Sesungguhnya harta dan anak-anak adalah fitnah bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan”.
[next]
Iblis pun kembali dalam keadaan putus asa, merugi, terhina, dan sangat marah. Meski harta dan anak-anak Nabi Ayub as telah tiada, namun beliau malah semakin giat dalam beribadah kepada Allah dalam menyongsong hari-hari beliau.

Rupanya, ketegaran hati Nabi Ayub as tidak menghentikan upaya Iblis untuk merusaknya. Suatu hari Iblis pun kembali lagi datang kepada Nabi Ayub as yang saat itu sedang melaksanakan sholat. Ketika Nabi Ayub sedang sujud dalam sholat, Iblis meniupkan serbuk-serbuk bakteri dan penyakit pada hidung, mulut, dan semua anggota badan. Beliau pun mengeluarkan keringat banyak dan merasa tubuh sangat berat. Namun, hal yang seperti itu tidak menghentikan ibadah beliau, malah beliau semakin giat dalam beribadah meskipun tubuh dan tenaga tak cukup kuat. Hal ini membuat Iblis kehabisan akal untuk membuat Nabi Ayub as lelah beribadah, Iblis hanya bisa menunggu keputusasaan Nabi Ayub as.

Tak kunjung sembuh, penyakit itu semakin lama semakin menggerogoti semua anggota tubuh Nabi Ayub as. Tubuh Nabi Ayub as mulai muncul luka borok menjijikkan yang dihuni belatung-belatung kecil yang tumbuh di dalam luka serta menggerogoti tubuh beliau secara perlahan. Karena merasa jijik, keluarga, sanak, dan kerabat-kerabat beliau pun mulai menjauhi. Tidak hanya itu, kedua istri Nabi Ayub as pun menuntut cerai kepada beliau dan kemudian beliau pun mencerai keduanya. Tinggallah Rohmah seorang diri yang melayani Nabi Ayub, selalu ada di sisi Nabi Ayub as, di siang dan malamnya untuk melayani beliau.

Rupanya, kondisi Nabi Ayub as yang sedemikian rupa mengusik para tetangga beliau. Hingga suatu ketika datanglah istri dari tetangga Rohmah, ia mengatakan “Wahai Rohmah, kami khawatir jika musibah yang terjadi pada suamimu akan menular kepada anak-anak kami. Keluarkan dia dari kota ini, jika tidak maka kami yang akan mengeluarkannya dengan paksa”.

Mendengar perkataan tersebut hati Rohmah sangat sedih. Tak lama kemudian, Rohmah pun mengemasi beberapa pakaian dan perbekalan untuk meninggalkan rumah, menginggalkan kota yang dia cintai bersama suaminya. Dengan air mata berlinang di pipi, Rohmah pun menggendong dan membawa Nabi Ayyub as menuju reruntuhan rumah (rumah kosong tak berpenghuni) tak jauh dari kotanya. Rumah itu merupakan tempat para pencuri bersembunyi.

Namun, penduduk kota yang mencium keberadaan Nabi Ayub as dan Rohmah yang masih tinggal di pinggir kota, para penduduk kota mengusir dan mengancam dengan anjing-anjing jika mereka berdua tidak lekas pergi jauh dari kota. Perasaan sedih dan susah, Rohmah pun tetap setia di sisi Nabi Ayub as

Rohmah dan Nabi Ayub as pergi jauh dari kota, hingga sampai di sebuah tempat yang cukup dekat dengan pemukian warga desa (kota lain). Di sana, Rohmah membuatkan Nabi Ayub as tempat tinggal baru, memotong kayu dan menalinya dengan kuat, sehingga terbentuklah sebuah gubuk kecil sederhana untuk tempat tinggal. Tak mempedulikan lelah, Rohmah pun mengambil pasir, meratakannya, dan meletakkan batu cukup besar sebagai tempat berbarig dan bantal Nabi Ayub as.

Di gubuk kecil itulah Rohmah merawat Nabi Ayub as dengan penuh kasih sayang, hari demi hari. Namun, kebutuhan hidup memaksa Rohmah untuk mencari nafkah, Setiap hari Rohmah pergi ke desa dan bekerja di sana demi memberi merawat dan memberi makan Nabi Ayub as.

Namun, semakin hari para warga desa semakin banyak yang mengetahui bahwa wanita asing yang setiap hari bekerja di sana adalah istri Nabi Ayub as, orang yang berpenyakit menjijikkan. Dan selama itulah, orang-orang desa menolak memperkerjakan Rohmah, mereka berkata “Menyingkirlah dari kami, kami measa jijik dan kotor melihatmu !!!”.
[next]
Anggapan kotor dan jijik oleh para warga desa semakin hari semakin banyak, sedangkan Rohmah yang begitu sedih hanya mampu berdoa, “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui kesuraman hidupku, orang-orang telah menganggap kami kotor di dunia, tetapi Engkau tidak menggangap kotor kami di akhirat. Orang-orang mengusir rumah kami, tetapi Engkau tidak akan mengusir rumah kami di hari kiamat nanti !”.

Rohmah menjalani hari-hari pahitnya dengan penuh kesabaran. Suatu hari di mana Rohmah tidak mendapatkan pekerjaan dan secawuk makanan, dia pergi kepada seorang wanita tukang roti untuk meminta hutang roti, “Sesungguhnya suamiku, Ayub, sedang kelaparan, maka hutangilah aku dengan sepotong roti !”. Wanita tukang roti itu menjawab, “Menyingkirlah dariku agar suamiku tidak memelihatmu, tetapi berikan pernak-pernik rambutmu itu kepadaku, maka aku akan memberikan roti kepadamu !”.

Dikisahkan bahwa Rohmah memiliki 12 hiasan rambut (semacam pernak-pernik dan tusuk konde) yang sangat indah warisan Nabi Yusuf as, sedangkan Nabi Ayub as sangat menyukai hiasan rambut tersebut. Ke-12 hiasan rambut itu pernah tidak sengaja terjatuh, banyak orang juga yang menginginkannya.

Akhirnya, Rohmah pun mendapatkan 4 potong roti dengan menjual semua hiasan rambut miliknya. Dalam doanya di berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya ini aku lakukan demi taat kepada suamiku, demi memberi makan nabi-Mu, Ayyub, aku telah menjual pernak-pernik rambutku”.

Rohmah pun pulang ke gubuk kecilnya dengan perasaan bahagia. Sesampainya Rohmah di gubuk kecilnya, Nabi Ayub as melihat bahwa 12 hiasan rambut miliknya telah tiada, beliau mengira bahwa istrinya telah menjual diri demi mendapatkan makanan, sehingga beliau bersumpah jika beliau sembuh maka beliau akan mencambuk istrinya sebanyak 100 kali.

Rohmah pun segera menjelaskan atas apa yang telah terjadi kepada suaminya. Nabi Ayub as yang mendengar penjelasnya itu menangis dan berkata, “Wahai Tuhanku, telah hilang prasangka burukku sehingga sampai bahwa sesungguhnya istri nabi-Mu telah menjual hiasan rambut miliknya, dan dia memberi nafkah kepadanya dari hasil penjualan itu”. Rohmah pun merasa senang dan mencoba menghibur Nabi Ayub as, kemudian dengan perlahan dia menyuapi Nabi Ayub as.

Dikisahkan bahwa Nabi Ayub as bersabar dalam penyakitnya selama 18 tahun. Bahkan ketika seekor belatung terjatuh dari tubuh Nabi Ayub as, beliau mengambil dan meletakanya kembali pada tubuh beliau, sembari berkata, “Makanlah apa yang telah Allah rizkikan kepadamu !”.

Wajar saja tubuh Nabi Ayub as seolah tidak tersisa kecuali tulang belualang. Nabi Ayub as adalah nabi yang pandai bersyukur dan bersabar, selama hati beliau masih mampu untuk bersyukur dan lisan beliau masih bisa untuk berdzikir, Nabi Ayub as akan senantiasa bersabar dan tabah atas semua semua ujian dari-Nya.

Suatu hari Rohmah juga pernah bertanya kepada Nabi Ayub as, “Engkau adalah nabi Allah yang mulia, hendaklah engkau berdoa kepada Allah agar Dia memberimu kesembuan !”. Nabi Ayub as bertanya balik, “Berapa waktu sehat yang telah aku jalani selama ini ?”. Rohmah menjawab, “80 tahun”, kemudian Nabi Ayub as hanya menjawab, “Aku malu kepada Allah untuk meminta kesembuhan, sedangkan waktu sakitku tidak sebanding dengan waktu sehatku”.
[next]
Nah, ketika belatung-belatung kecil yang berkembang biak dalam tubuh Nabi Ayub as mulai saling memakan satu sama lainnya, hingga tersisa dua belatung yang bertahan. Satu belatung mencoba menggerogoti lisan dan belatung lainnya mencoba menggerogoti hati, Nabi Ayub as pun berdoa dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 83 :

وَأَيُّوْبَ إِذْ نَادٰى رَبَّهُ أَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

Dan karena itulah Allah SWT memuji Nabi Ayub as sebagai teladan bagi hamba-hamba-Nya, dalam potongan surat Shod, ayat 44 :

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”.

Nabi Ayub as tidak pernah putus untuk beribadah meskipun harta, anak-anak, dan kesehatan beliau dirampas, beliau berdo’a karena takut akan hati dan lisan yang digerogoti belatung dan menjadikan itu terputus untuk beribadah kepada Allah. Selayaknya beliau berdo’a “Wahai Tuhanku, aku bersabar atas semua coba’an yang Engkau berikan selama hatiku masih tertuju pada cinta-Mu dan lisanku senantiasa bisa berdzikir kepada-Mu. Tetapi, jika tidak ada itu berdua maka ibadahku akan terputus sampai disini. Dan aku tidak bisa bersabar jika aku akan terputus kepada-Mu, sedangkan Engkau adalah Dzat yang Maha Pengasih !!!”. Kemudian Allah memberikan wahyu kepada beliau “Wahai Ayyub, sesungguhnya lisan adalah milik-Ku, hati adalah milik-Ku, belatung adalah milik-Ku, dan sakit itu dari-Ku, maka mengapa kamu khawatir ?”.

Dalam pendapat lain, Allah memberi wahyu kepada Nabi Ayyub “Sesungguhnya 70 orang dari Nabi-Ku menghendakinya (musaibah) dari-Ku, dan Aku memilihnya untukmu sebagai tambahan dalam kemuliaanmu. Maka ini bagimu adalah bala’ (musibah/cobaan) yang nyata, dan kedekatan (dengan-Ku) adalah hakekatnya”.

Karena sesungguhnya terputusnya Nabi Ayyub dari ibadah beliau jika belatung itu memakan hati dan lisan beliau sehingga beliau tidak mampu berpikir dan berdzikir, itulah apa yang dikhawatirkan oleh Nabi Ayub as.

Allah pun menjatuhkan kedua belatung tersebut, kemudian Malaikat Jibril datang menemui Nabi Ayyub dengan membawa dua buah delima. Nabi Ayyub berkata kepada Malaikat Jibril “Wahai Jibril, apakah Tuhanku menyebutku ?”. Malaikat Jibril menjawab “Benar, Allah memberikan keselamatan (kesehatan) kepadamu dan memerintahkanmu untuk memakan dua buah delima ini maka kamu akan sembuh sampai daging dan tulangmu !”.

Ketika Nabi Ayyub memakan keduanya, Malaikat Jibril berkata “Berdirilah atas izin Allah !”. Dalam surat Shod ayat 42, Allah SWT berfirman :

اُرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ
Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”.

Kemudian Nabi Ayyub memukulkan kaki kanan beliau ke atas tanah dan dari situlah keluar air hangat, dan beliau mandi dari air itu. Lalu beliau memukulkan kaki kirinya dan keluarlah air dingin dari tanah itu dan beliau meminum air tersebut. Seketika itu hilanglah semua penyakit beliau, baik penyakit dalam maupun penyakit luar. Tidak pula demikian, badan beliau pun terlihat lebih sehat dan bagus daripada sebelumnya, dan di wajah beliau juga terlihat bersinar seolah sinar bulan. Allah SWT berfirman dalam potongan surat Shod ayat 44 :

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah

Seperti halnya Nabi Ayub as telah bersumpah untuk memukul istri beliau sebanyak 100 kali. Dan sebagai janji dari sumpah tersebut, Allah memerintah beliau untuk mengambil seikat rumput dan memukulkannya kepada istri beliau, Rohmah. Kemudian, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 84 :

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرٰى لِلْعَابِدِيْنَ
Kemudian Kami mengabulkan banginya (do’a Nabi Ayyub), Lalu Kami menghilangkan apa yang ada padanya berupa kesensaraan, dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang ahli beribadah”.

Dengan demikian Allah telah membenarkan firman-Nya bahwa hamba-Nya, Nabi Ayyub memang benar-benar beribadah dan bersyukur bukan karena harta dan nikmat yang dimiliki, tetapi karena Allah. Sedangkan Iblis laknatullah senantiasa merugi, merasa terhina, dan merasa putus asa jika melihat hamba Allah yang dengan ikhlas beribadah karena Allah.

Sumber : Kitab Durrotun Nashihin, bab Menjelaskan Kesabaran Nabi Ayub as.
Penulis : Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khoubawi.