21 Tradisi Unik Menyambut Bulan Ramadhan di Indonesia

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan tradisi sejak zaman nenek moyang kita dulu, tradisi dan budaya tersebut biasanya dilakukan berdasarkan pada waktu dan kondisi tertentu. Tentu saja kita akan menemukan berbagai macam budaya dan tradisi dari ujung Sabang sampai ujung Merauke.


Tradisi Unik Menyambut Bulan Ramadhan di Indonesia

Nah, dalam menyambut Bulan Ramadhan yang penuh berkah pun, umat islam di Indoensia memiliki berbagai macam jenis budaya dan tradisi sesuai dengan daerah masing-masing. Tentu saja budaya dan tradisi menyambut Bulan Ramadhan tersebut merupakan momen spesial yang hanya terjadi setahun sekali, jadi umat islam melaksanakannya dengan penuh antusias. Lalu, apa saja budaya dan tradisi di Indonesia dalam menyambut Bulan Ramadhan ?

1. Megengan

Megengan adalah budaya dan tradisi yang dilakukan untuk menyambut Bulan Ramadhan oleh sebagian besar orang-orang Jawa Timur (Lamongan, Gresik, Bojonegoro, Tuban, Surabaya, dan lainnya). Tradisi ini sama seperti tradisi slametan, dilakukan dengan bacaan tahlil, doa, dan disusul dengan makanan. Tujuan tradisi ini adalah untuk mengirim doa kepada keluarga yang sudah meninggal dapat menjalani Bulan Ramadhan dengan lancar.

2. Nyekar

Nyekar adalah budaya dan tradisi yang juga dilakukan untuk menyambut Bulan Ramadhan oleh sebagian besar orang-orang Jawa Timur (Lamongan, Gresik, Bojonegoro, Tuban, Surabaya, dan lainnya). Tradisi ini dilakukan dengan berziarah ke makam para leluhur dan keluarga yang telah meninggal dengan membersihkan sebagian makam, memberi taburan bunga, dan mengirim doa.

3. Nyandran

Tradisi “nyandran” dilakukan oleh sebagaian besar orang Jawa Tengah dalam menyambut Bulan Ramadhan. Tradisi ini sama seperti tradisi “nyekar”, yaitu berziarah ke makam para leluhur dan keluarga yang telah meninggal dengan membersihkan sebagian makam, memberi taburan bunga, dan mengirim doa.

4. Kirab Dandangan

Berbeda lagi dengan masyarakat Kudus dalam menyambut Bulan Ramadhan, tradisi yang terkenal di sana disebut “Kirab Dandangan”. Sebenarnya, tradisi ini dikenal dari masa Syekh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), di mana para santri berkumpul di Masjid Menara Kudus untuk menunggu penentuan awal Bulan Ramadhan dari Sunan Kudus. Penentuan awal Bulan Puasa oleh Sunan Kudus ditandai dengan ditabuhnya bedug di dalam masjid, dan dari sinilah istilah “Dandangan” mulai dikenal. Sampai saat ini tradisi para santri berkumpul di Masjid Menara Kudus itu terus berlanjut setiap tahunnya, bahkan momen ini dimanfaatkan oleh para pedagang di sekitar lokasi, jadi semakin manambah keramaian suasana.

5. Malamang

Dalam menyambut Bulan Ramadhan, sebagaian besar masyarakat Sumatera Barat melakukan tradisi lain yaitu “Malamang”. Tradisi ini dilakukan dengan membuat nasi lamang yang terbuat dari beras ketan hitam atau merah dengan cara gotong-royong. Setelah masakan nasi lemang sudah jadi, nantinya akan dikirim ke rumah mertua masing-masing sebagai bentuk permohonan maaf.

6. Munggahan

Salah satu tradisi yang kerap dijumpai dalam masyarakat Sunda di Jawa Barat adalah “munggahan”. Tradisi meminta maaf dan memaafkan ini umumnya dilakukan dalam menyambut Bulan Ramadhan dengan berkumpul bersama keluarga, kerabat, dan teman-teman sambil menimati hidangan makanan, meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Umumnya, tradisi “munggahan” dilakukan di luar rumah, di sawah, lapangan, taman, lokasi pariwisata, dan sebagainya dengan harapan dapat menjalani ibadah puasa secara penuh.

7. Perlon Unggahan

Perlon Unggahan dalah tradisi ziarah kubur dalam menyambut Bulan Ramadhan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tradisi berziarah kubur ini dilakukan tanpa menggunakan alas kaki dengan membawa nasi bertutup daun pisang nasi ambeng. Nasi-nasi tersebut nantinya akan dimakan setelah proses berziarah selesai dengan harapan dapat menambah berkah dalam Bulan Ramadhan.

8. Dugderan

Dalam upaya menyambut Bulan Ramadhan, masyarakat Semarang juga tidak kalah untuk melakukan tradisi para leluhur, yaitu tradisi “dugderan”. Tradisi ini sudah ada lebih dari seribu tahun yang lalu, dengan menggelar perayaan sebagai bentuk penyambutan bulan puasa.

9. Gebyar Ki Aji Tunggal

Gebyar Ki Aji Tunggal adalah tradisi perayaan dan karnaval yang dilakukan dalam menyambut Bulan Ramadhan oleh Desa Karangaji, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Tradisi perayaan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan akhir tahun Madrasah, dengan menampilkan berbagai macam gambaran kehidupan saat ini.

10. Nyorog

Nyorog adalah tradisi yang terkenal di mayarakat Betawi menjelang Bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan cara membagi-bagikan makanan (terutama makanan khas Betawi) kepada kelurga, tetangga, dan teman-teman. Pada umumnya, pemberian makanan dilakukan dari orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua sambil meminta restu untuk mendapatkan kelancaran menjalani ibadah puasa. Selain itu, tradisi ini juga bertujuan untuk silaturrahim dan mempererat tali persaudaraan.

11. Padusan

Tradisi “padusan” ternyata cukup terkenal di Jawa Tengah, khususnya Boyolali, Karangayar, Yogyakarta, Salatiga. Tradisi ini dilakukan dengan mandi dan berendam di sumber mata air, terutama di tempat-tempat keramat. Tradisi ini memiliki makna untuk membersihkan jiwa dan hati dalam menyambut Bulan Ramadhan.

12. Suro’ Baca

Tradisi “Suro’ Baca” adalah tradisi menyambut Bulan Ramadhan yang terkenal dari Makassar. Tradisi ini dilakukan dengan memanjatkan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama yang kemudian disusul makan bersama. Selain memanjatkan doa, tradisi Suro’baca juga dilakukan dengan berziarah ke makam para ulama’ dan wali menjelang Bulan Ramadhan.

13. Tungkalan

Tradisi “tungkalan” digelar oleh masyarakat Dusun Manggu, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Tradisi ini bertujuan untuk meminta keselamatan kepada sang Pencipta selama Bulan ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan berjalan-jalan mengelilingi kampung seusai sholat tarawih dengan obor dan bedug. Seusainya, warga berkumpul ke dalam masjid dan makan bersama.

14. Ter-ater

Tradisi “ter-ater” ini dilakukan oleh masyarakat Sumenep, Madura, dalam menyambut Bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan saling mengantar makanan ke rumah keluarga dan tetangga dengan tujuan untuk saling minta maaf dan memaafkan, juga bertujuan untuk silaturrahim serta mempererat tali persaudaraan.

15. Maanta ka Rumah Mintuo

Tradisi “maanta ka rumah mintuo” adalah tradisi yang berasal dari Sumatera Barat dalam menyambut Bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan memasak makanan lezat oleh istri, yang kemudian makanan tersebut diantarkan ke rumah mertua (orangtua suami) dengan tujuan agar mempererat hubungan antara menantu dan mertua.

16. Ziarah Kubro

Ziarah kubro adalah tradisi ziarah kubur yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Palembang dalam menyambut Bulan Ramadhan. Pada umumnya, tradisi ini adalah berziarah ke beberapa makam para ulama’ dan wali di Palembang. Dan uniknya, tradisi ini dilakukan secara masal oleh masyarakat setempat.

17. Balimau

Tradisi “balimau” ini cukup marak di Minangkabau, cukup mirip dengan tradisi “padusan”, tetapi yang membedakan adalah mandi dengan membumbui limau atau jeruk nipis. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu menjelang Bulan Ramadhan.

18. Meugang

Pernah dengar tradisi menyembelih kambing atau sapi dari Kota Serambi Mekah atau Aceh dalam menyambut Bulan Ramadhan ?. Ya, tradisi itu lebih kerap disapa “meugang”, tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun sejak sekitar 1400 tahun yang lalu.

19. Marpangir

Tradisi ini lebih mirip dengan tradisi “balimau”, yaitu tradisi mandi dalam menyambut Bulan Ramadhan. Tetapi, tradisi ini lebih menggunakan rempah-rempah sebagai bumbu mandi, seperti jeruk, daun serei, daun pandan, daun mawar, dan lain-lain. Tradisi ini dikenal akrab di daerah-daerah Sumatra Utara, seperti Batak, Tapanuli, Medan, dan lainnya.

20. Belangiran

Tradisi “belangiran” bisa ditemui di Lampung, yaitu melakukan ritual mandi yang dilakukan oleh para remaja dalam menyambut Bulan Ramadhan. Tak hanya mandi dengan air saja, tetapi juga dibumbui dengan kembang tujuh rupa, tangkai bunga, sekam yang telah dibakar, dan lain-lain.

21. Tulak Bala

Pada saat menjelang Bulan Ramadhan, masyarakat Nagari Sungai Sariak, Padangpariaman, Sumatera Barat, menggelar sebuah tradisi setiap tahunnya yaitu “tulak bala” atau “tolak musibah”. Sebelum tradisi ini dimulai, terlebih dahulu masyarakat menyembelih satu ekor kambing di jalan raya dan darahnya akan disiramkan ke jalan raya. Proses tradisi ini dilakukan dengan dzikir dan kalimat pujian kepada sang Pencipta yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url