Pembagian Hadits Dari Segi Sandaran dan Sumbernya

Klasifikasi Hadits Dari Segi Sandaran dan Sumbernya

Klasifikasi atau pembagian hadits jika ditinjau dari sudut pandang yang disandarkan dan sumber asalnya, maka ada beberapa macam hadits di sini, yaitu :
1. Hadits Qudsi
2. Hadits Musnad
3. Hadits Marfu'
4. Hadits Mauquf
5. Hadits Maqthu'
6. Hadits Muttashil

1. HADITS QUDSI (الْحَدِيْثُ الْقُدْسِى)
Hadits qudsi adalah kalam Allah SWT yang tidak tertulis dalam Al-Qur'an namun disampaikan melalui perantara Nabi Muhammad SAW. Karena hadist qudsi merupakan kalam Allah SWT, maka sifatnya pun bukan makhluk atau huduts tetapi qadim.

Contoh hadist qudsi :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ اللّٰهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
"Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta’ala berfirman : "Aku mengikuti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Dan Aku ada bersamanya jika ia senantiasa mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya di dalam Dzat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang, maka Aku akan mengingatnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka (yaitu para malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat padanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat padanya satu depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari" (HR. Bukhori).

2. HADITS MUSNAD (الْحَدِيْثُ الْمُسْنَدُ)
Hadits Musnad adalah hadits yang sanadnya sambung dari riwayat yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW, seperti contoh hadits yang diriwayatkan dari Imam Malik :

Sedangkan Imam Al-Khatib Al-Baghdady berpendapat bahwa hadits musnad adalah hadits yang sanadnya sambung dari Rosulullah SAW, baik dari awal rawi sampai akhir rawinya. Kebanyakan hadits musnad digunakan pada hadits yang datang dari Rosulullah SAW saja, tidak pada selain Beliau, baik sahabat maupun tabi'in.

Contoh Hadits Musnad :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ عَنْ مُغِيْرَةَ عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ كَانَ جَرِيْرُ بْنُ عَبْدِ اللّٰهِ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَبَقَ الْعَبْدُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ - رواه مسلم
"Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Jarir] dari [Mughirah] dari [asy-Sya'bi] dia berkata, [Jarir bin Abdullah] menceritakan dari Nabi SAW bersabda, "Apabila seorang hamba sahaya melarikan diri (dari tuannya), maka shalatnya tidak diterima" (HR-Muslim)".

Dari referensi lain, Hadits Musnad ini juga disebut dengan istilah Hadits Nabawi.

3. HADITS MARFU' (الْحَدِيْثُ الْمَرْفُوْعُ)
Hadits Marfu' adalah hadits yang disandarkan dari Nabi SAW, baik perkataan, perbuatan, ketetapan, hakekat sifat, maupun hukum, baik hadits itu sambung sanadnya atu tidak, baik diriwayatkan dari sahabat, tabi'in, atau selainnya.

Adapun Hadits Marfu' sendiri diklasifikasikan atau dibagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah :
  1. Marfu' Qouli Haqiqi, hadits yang hanya disandarkan pada perkataan Nabi SAW saja, bukan perbuatan, ketetapan, atau sifat Beliau.
    Contoh Marfu' Qouli Haqiqi seperti contoh Hadits Musnad di atas, karena Hadits Musnad sudah pasti termasuk Hadits Marfu', sedangkan Hadits Marfu' belum tentu termasuk Hadits Musnad.
  2. Marfu' Qouli Hukmi, yaitu berupa perkataan sahabat yang berhubungan dengan kejadian masa lalu seperti permulaan penciptaan makhluk, atau kejadian masa depan seperti tanda-tanda kiamat. Karena hal sedemikian itu tidak diketahui oleh para sahabat, kecuali mereka yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT atau penjelasan dari Nabi SAW.

    Contoh Marfu' Qouli Hukmi dari riwayat Abdulullah bin Busr :
    أُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرٌّ مِنَ السُّجُوْدِ مُحَجَّلُوْنَ مِنَ الْوُضُوْءِ
    "Ummatku akan datang hari kiamat kelak wajah mereka putih bersinar dari bekas sujud dan putih bersinar dari bekas wudlu'" (HR.Trimidzi : No. 552).
  3. Marfu' Fi'li Haqiqi, yaitu hadits yang disandarkan hanya pada perbuatan Nabi SAW, bukan perkataan, ketetapan, dan sifat Beliau.

    Contoh Marfu' Fi'li Haqiqi :
    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللِّٰه صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِيْ شَأْنِهِ كُلِّهِ - متفق عليه
    "Dari Siti Aisyah ra berkata : Rosulullah SAW membuat heran (selalu melakukan) dengan mendahulukan sisi kanan di dalam memakai sandalnya, menyisir rambutnya, cara bersucinya, dan di dalam setiap keadaannya - Disepakati keshohihan hadits oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim".
  4. Marfu' Fi'li Hukmi, yaitu perbuatan sahabat yang tidak didasarkan dari pendapat dan pemikiarannya sendiri.

    Contoh Marfu' Fi'li Hukmi :
    حَدَّثَنِيْ عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ لَمْ يَكُنْ يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِ - رواه مالك
    "Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Nafi'], bahwa [Ibnu Umar] tidak pernah menoleh dalam shalatnya (HR. Imam Malik)".
  5. Marfu' Taqriri Haqiqi, yaitu hadits yang disandarkan pada ketetapan Nabi SAW, Beliau melihat tindakan sahabat namun tidak memerintah atau melarangnya.

    Contoh Marfu' Taqriri Haqiqi :
    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَتْهُمَا الصَّلَاةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ بَعْدُ فِي الْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ بِوُضُوءٍ وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ فَقَالَ لِلَّذِيْ لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلَّذِي تَوَضَّأَ وَأَعَادَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ
    "Dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu ia berkata: "Pernah ada dua orang bepergian dalam sebuah perjalanan jauh dan waktu shalat telah tiba, sedang mereka tidak membawa air, lalu mereka berdua bertayamum dengan debu yang bersih dan melakukan shalat, kemudian keduanya mendapati air (dan waktu shalat masih ada), lalu salah seorang dari keduanya mengulangi shalatnya dengan air wudhu dan yang satunya tidak mengulangi. Mereka menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menceritakan hal itu. Maka beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya: "Kamu sesuai dengan sunnah dan shalatmu sudah cukup". Dan beliau juga berkata kepada yang berwudhu dan mengulangi shalatnya: "Bagimu pahala dua kali"". (HR. Ad-Darimi).
  6. Marfu' Taqriri Hukmi, yaitu perbuatan sahabat yang diketahui oleh Nabi SAW, tetapi Beliau hanya diam saja.

    Contoh Marfu' Taqriri Hukmi :
    كَانَ اَصْحَابُ النَّبِيْ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَعُوْنَ بَابَهُ بِالْاَظَافِرِ
    "Para sahabat Nabi SAW pernah mengetuk pintu rumah Beliau dengan kuku-kuku mereka"
  7. Marfu' Sifati Haqiqi, yaitu perkataan sahabat dalam menjelaskan sifat dan kepribadian fisik Nabi SAW.

    Contoh Marfu' Sifati Haqiqi :
    كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيْرِ وَلَا بِالْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ وَلَيْسَ بِالْآدَمِ وَلَيْسَ بِالْجَعْدِ الْقَطَطِ وَلَا بِالسَّبْطِ بَعَثَهُ اللّٰهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً فَأَقَامَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِيْنَ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِيْنَ فَتَوَفَّاهُ اللّٰهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُوْنَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ
    "Rasulullah SAW tidaklah berbadan tinggi dan juga tidak pendek. Kulit beliau tidak terlalu putih dan juga tidak terlalu kecoklatan. Rambut beliau tidak terlalu keriting dan tidak lurus. Beliau diutus oleh Allah saat usia beliau 40 tahun lalu tinggal di Mekkah selama 10 tahun dan menetap di Madinah selama 10 tahun lalu Allah mewafatkan beliau dan ada rambut yang beruban pada kepala dan jenggot beliau yang tidak lebih dari 20 helai" (HR. Muslim : No. 3284).
  8. Marfu' Sifati Hukmi, yaitu perkataan sahabat dengan menggunakan kata "اُمِرْنَا - نُهِيْنَا" atau "kami diperintah - kami dilarang". Demikian itu membuktikan bahwa Nabi SAW melakukannya, sedangkan perbuatan sahabat tersebut menyifati apa yang telah dilakukan Nabi SAW.

    Contoh Marfu' Sifati Hukmi :
    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ النَّجْشِ - رواه البخارى
    "Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] dari [Malik] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar], Rasulullah SAW telah melarang (jual beli) najasy (penipuan)" (HR. Bukhari)".

4. HADITS MAUQUF (الْحَدِيْثُ الْمَوْقُوْفُ)
Hadits Mauquf adalah hadits yang disandarkan dari sahabat, baik perkataan, perbuatan, dan ketetapannya, baik sanadnya sambung atau tidak sambung, dengan syarat tidak ada tanda-tanda marfu'. Jika hadits tersebut terdapat tanda-tanda marfu', maka akan dihukumi hadits marfu'.

Dari beberapa riwayat, hadits mauquf juga disebut dengan Atsar, contoh Hadits Mauquf :
حَدَّثَنِيْ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ أَنَّ عَبْدَ اللّٰهِ بْنَ عُمَرَ رَكِبَ إِلَى ذَاتِ النُّصُبِ فَقَصَرَ الصَّلَاةَ فِي مَسِيْرِهِ ذَلِكَ قَالَ مَالِك وَبَيْنَ ذَاتِ النُّصُبِ وَالْمَدِينَةِ أَرْبَعَةُ بُرُدٍ
"Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Nafi'] dari [Salim bin Abdullah] bahwa [Abdullah bin Umar] berkendara menuju Dzatin Nushub. Lalu ia mengqashar shalat dalam perjalanan tersebut." Malik berkata, "Jarak Dzatin Nushub dan Madinah sekitar empat Burud" (HR. Imam Malik : No. 308).

5. HADITS MAQTHU' (الْحَدِيْثُ الْمَقْطُوْعُ)
Hadits Maqthu' adalah hadits yang disandarkan dari para tabi'in, tabi'it tabi'in, dan seterusnya, baik perkataan, perbuatan, dan ketetapan, baik sanadnya sambung atau tidak sambung, dengan syarat hadits tersebut tidak terdapati tanda-tanda Hadits Marfu' dan Hadits Mauquf.

Contoh Hadits Maqthu' dari riwayat Haram bin Jubair, yaitu seorang tabi'in yang terkenal :
الْمُؤْمِنُ اِذَا عَرَفَ رَبَّهُ اَحَبَّهُ، وَاِذَا اَحَبَّهُ اَقْبَلَ اِلَيْهِ
"Orang mukmin adalah ketika dia mengenal Tuhannya, maka dia mencintai-Nya. Dan ketika dia mencintai-Nya maka dia akan menghadap kepada-Nya (melakukan ibadah dengan khusyu')".

Contoh Hadits Maqthu' dari riwayat Sufyan At-Tsauri, yaitu seorang tabi'in yang juga terkenal :
مِنَ السُّنَةِ اَنْ يُصَلِّيَ بَعْدَ الْفِطْرِ اِثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً وَبَعْدَ الْاَضْحٰى سِتَّ رَكَعَاتٍ
"Termasuk sunnah yaitu melakukan sholat 12 rokaat setelah sholat Idul Fitri dan 6 rokaat setelah sholat Idul Adla".

6. HADITS MUTTASHIL (الْحَدِيْثُ الْمُتَّصِلُ)
Hadits Muttashil adalah hadits yang sanadnya sambung kepada Nabi SAW atau sahabat, dengan cara setiap rawi mendengar langsung dari rawi sebelumnya. Contoh Hadits Muttashil sama seperti pada contoh hadits musnad dan hadits marfu'.

Sumber definisi : Kitab Minhatul Mughits, Bab : Hadits Musnad, Hadits Marfu', Hadits Mauquf, Hadits Maqthu', dan Hadits Muttashil
Penulis : Hafidz Hasan Al-Mas'udi.

Baca lebih lanjut : Kumpulan Materi Ilmu Hadits.
Tanggapan :