Pengertian dan Contoh Hadits Muhmal

Pengertian dan Contoh Hadits Muhmal

Salah satu jenis hadits yang biasanya jarang didengar dan diketahui adalah hadits muhmal. Lalu apa itu hadits muhmal ? berikut beberapa penjelasan singkat tentang hadits ini.

Pengertian Hadits Muhmal (الْحَدِيْثُ الْمُهْمَلُ)
Menurut bahasa, muhmal merupakan isim maf'ul dari lafadz "ahmala" (اَهْمَلَ) yang artinya membiarkan, sedangkan muhmal berarti sesuatu yang dibiarkan.

Sedangkan menurut istilah, hadits muhmal adalah hadits diriwayatkan oleh salah satu dari 2 orang rawi, yang memiliki kesamaan nama, laqab (nama julukan), kunyah (nama panggilan), atau nama nasab, tanpa adanya hal yang membedakan.

Dari pengertian di atas, maka kita bisa mengetahui bahwa yang dimaksud hadits muhmal adalah jika di dalam sanadnya terdapat nama rawi yang bermakna ganda di kalangan ahli hadits. Hal itu dikarenakan nama tersebut adalah nama yang sama yang merujuk pada 2 nama rawi yang berbeda, bisa saja rawi A atau bisa rawi B.

Di sini, yang dimaksud dengan nama yang sama, di antaranya adalah :
  1. Nama rawi dan nama ayahnya memang sama, tanpa adanya pembeda seperti nama kebangsaan atau nama nasabnya
  2. Diriwayatkan hanya dengan menggunakan nama rawi saja, tanpa nama nasab, nama ayah, atau nama kebangsaan.
  3. Diriwayatkan hanya dengan menggunakan laqab atau kunyah, dan lain sebagainya

Hukum Mengamalkan Hadits Muhmal
Jika ada kejelasan dari rawi yang meriwayatkan mengenai nama rawi yang sama tersebut, bahwa ia menerima riwayat dari salah satu nama rawi yang sama, maka kemuhmalannya bisa hilang.

Tetapi, jika tidak ada kejelasan mengenai salah satu rawi nama yang sama tadi, maka ada 3 versi di sini :
  1. Jika kedua rawi merupakan rawi yang tsiqqah (terpercaya) maka hadits tersebut diamalkan. Contoh seorang rawi meriwayatkan dari Ahmad dari Ibnu Wahab, dan seterusnya. Nama Ahmad tersebut bisa jadi adalah Ahmad bin Isa dan Ahmad bin Shalih, kedua rawi tersebut tsiqqah.
  2. Jika salah satu rawi adalah dhaif dan satunya adalah tsiqqah. Contohnya adalah Sulaiman bin Dawud, jika dinisbatkan pada "Al-Khulani" maka termasuk riwayat yang tsiqqah, tetapi jika dinisbatkan pada "Al-Yamani" maka riwayatnya adalah dhaif.
  3. Jika kedua rawi termasuk rawi yang dhaif, maka sudah jelas kemuhmalannya juga menjadi dhaif.
Baca lebih lanjut : Kumpulan Materi Ilmu Hadits.