Pembagian dan Macam-Macam Riwayat Hadits


Riwayat-riwayat hadits ada banyak sekali, untuk itulah para ulama' ahli hadits merumuskan pembagiannya sebagai mana berikut ini :
1. Riwayat Mudabbaj
2. Riwayat Ghairu Mudabbaj atau Riwayat Aqran
3. Riwayat Akabir Anil Ashaghir
4. Riwayat Ashaghir Anil Akabir

1. Riwayat Mudabbaj (الرِّوَايَةُ الْمُدَبَّجُ)
Riwayat Mudabbaj adalah riwayat dari 2 orang rawi yang saling berteman, di mana keduanya saling meriwayatkan antara satu dengan lainnya.

Adapun riwayat yang termasuk mudabbaj adalah :
  • Riwayat yang terjadi di kalangan para sahabat, misalnya Siti Aisyah ra dan Abu Hurairah ra, kadang Siti Aisyah ra meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, kadang Abu Hurairah ra juga meriwayatkan dari Siti Aisyah ra.
  • Riwayat yang terjadi di kalangan para tabi'in, misalnya Az-Zuhri dan Ibnu Zubair. Kadang Az-Zuhri meriwayatkan dari Ibnu Zubair, kadang pula Ibnu Zubair meriwayatkan dari Az-Zuhri.
  • Riwayat yang terjadi di kalangan para tabi'it tabi'in, misalnya Imam Malik dan Imam Auza'i, Imam Ahmad bin Hambal dan Ali bin Al-Madiny, dan sebagainya.
Kesimpulannya adalah dua orang rawi yang saling berteman dan keduanya saling meriwayatkan hadits antara satu dengan lainnya tanpa perantara. Namun, ada juga yang melalui perantara, misalnya Imam Malik dan Al-Laits, masing-masing saling meriwayatkan antara satu dengan lainnya melalui perantara Yazib bin Al-Hadi.

Syarat Riwayat Mudabbaj adalah memiliki kesamaan umur dan sama-sama mengambil dari riwayat guru-gurunya (rawi-rawi yang sama).

Contoh Riwayat Mudabbaj :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَعُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى قَبَضَهُ اللّٰهُ
"Dari Abu Hurairah dan Urwah, dari Aisyah, sesungguhnya Nabi SAW beri'tikaf pada 10 hari terakhir Bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan Beliau" (HR. Tirmidzi No.720).

Hadits tersebut diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra dari Siti Aisyah ra, yang mana keduanya merupakan 2 rawi yang berteman dari kalangan sahabat Nabi SAW.

2. Riwayat Ghairu Mudabbaj (الرِّوَايَةُ غَيْرُ الْمُدَبَّجِ) atau Riwayat Aqran (الرِّوَايَةُ الْاَقْرَانُ)
Riwayat Ghairu Mudabbaj atu dikenal juga dengan riwayat Aqran adalah riwayat dari 2 orang rawi yang saling berteman, namun salah rawi satunya tidak meriwayatkan dari rawi lainnya, misalnya riwayat Al-A'masy dan At-Taimi.

Syarat Riwayat Ghairu Mudabbaj adalah harus memenuhi satu syarat saja dari 2 syarat riwayat mudabbaj, yaitu kesamaan umur atau sama-sama mengambil dari riwayat guru-gurunya (rawi-rawi yang sama).

Riwayat Ghairu Mudabbaj biasanya banyak terjadi di kalangan tabi'in dan di kalangan tabi'it tabi'in. Misalnya 2 rawi dari kalangan tabi'in yang seumuran, satu rawi menerima riwayat dari rawi lainnya, sedangkan rawi lain tersebut tidak pernah menerima riwayat dari rawi satunya. Begitu pula halnya yang terjadi di kalangan tabi'it tabi'in.

Contoh Hadits Ghairu Mudabbaj atau Hadits Aqran :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَامِرٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ وَهُوَ ابْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ أَبِيْ صَالِحٍ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ
"Muhammad bin Abdullah bin Mubarak telah mengkhabarkan kepada kami, dia berkata : telah Abu 'Amir menceritakan kepada kami, dia berkata : Sulaiman yaitu Ibnu Bilal telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shaleh dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan" (HR. Nasai No. 4918).

Dalam Kitab Fathul Bari (I/53), Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut ada riwayat aqran yaitu Abdullah bin Dinar dan Abu Shalih, keduanya adalah seorang tabi’in. Namun, jika ditemukan riwayat Abu Shalih berasal dari Abdullah bin Dinar, maka riwayat hadits tersebut akan menjadi mudabbaj.

3. Riwayat Akabir Anil Ashaghir (الرِّوَايَةُ الْاَكَابِرُ عَنِ الْاَصَاغِرِ)
Riwayat Akabir Anil Ashaghir adalah jika rawi yang memberi riwayat lebih muda umurnya daripada rawi yang menerima riwayat, yang diperoleh dari seorang guru (rawi yang sama).

Adapun yang termasuk Riwayat Akabir Anil Ashaghir adalah :
  • Riwayat sahabat dari tabi'in
  • Riwayat tabi'in dari tabi'it tabi'in, misalnya riwayat Az-Zuhri (tabi'in) dari Imam Malik (tabi'it tabi'in).
  • Riwayat ayah dari anaknya
Contoh Riwayat Akabir Anil Ashaghir :
حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا وَائِلُ بْنُ دَاوُدَ عَنْ ابْنِهِ بَكْرِ بْنِ وَائِلٍ عَنْ الزَّهْرِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَمَ عَلَى صَفِيَّةَ بِسَوِيْقٍ وَتَمْرٍ
"Hamid bin Yahya menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Wail bin Abu Dawud menceritakan kepada kami, dari putranya yaitu Bakar bin Wail, dari Az-Zuhri, dari Sahabat Anas bin Malik, "Bahwa Nabi SAW membuat walimah atas pernikahan (Beliau dan) Shafiyah dengan memasak gandum dan kurma". (HR. Abu Dawud No. 3253).

Di dalam sanad hadits tersebut, Wail bin Dawud (ayah) menerima riwayat dari Bakar bin Wail (anak).

4. Riwayat Ashaghir Anil Akabir (الرِّوَايَةُ الْاَصَاغِرُ عَنِ الْاَكَابِرِ)
Riwayat Ashaghir Anil Akabir adalah jika rawi yang memberi riwayat lebih tua umurnya daripada rawi yang menerima riwayat, yang diperoleh dari seorang guru (rawi yang sama).

Adapun yang termasuk Riwayat Akabir Anil Ashaghir adalah :
  • Riwayat tabi'in dari sahabat
  • Riwayat tabi'it tabi'in dari tabi'in,
  • Riwayat anak dari ayahnya
Contoh Riwayat Ashaghir Anil Akabir :
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِى الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ
"Qutaibah telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Az-Zuhri, dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im, dari ayahnya berkata, "Aku mendengar Nabi SAW membaca Surat Thur di waktu maghrib". (HR. Imam Nasai No. 977).

Di dalam sanad hadits tersebut, Imam Malik (seorang tabi'it tabi'in) mendapatkan riwayat dari Az-Zuhri (seorang tabi'in). Demikian pula, Muhammad bin Jubair bin Muth'im (anak) mendapatkan riwayat dari Jubair bin Muth'im (ayah).

حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ مَنْصُوْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يُوْنُسَ بْنِ يَزِيْدَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ فِيْ سَفَرٍ إِلَّا يَوْمَ الْخَمِيْسِ
"Sa'id bin Manshur telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al-Mubarak telah menceritakan kepada kami, dari Yunus bin Yazid, dari Zuhri dari Abdur Rahman bin Ka'ab bin bin Malik, dari Ka'b bin Malik berkata, "Seringkali Rasulullah SAW melakukan perjalanan pada hari Kamis"" (HR. Abu Dawud No.2238).

Di dalam sanad hadits tersebut, Abdur Rahman bin Ka'ab bin Malik (anak) mendapatkan riwayat dari Ka'ab bin Malik (ayah).

Baca lebih lanjut : Kumpulan Materi Ilmu Hadits.
Tanggapan :