Kisah Salman Al-Farisi Curhat 4 Masalah Hidup Pada Ali bin Abi Thalib

Kisah Salman Al-Farisi Curhat 4 Masalah Hidup Pada Ali bin Abi Thalib

Sahabat Salman Al-Farisi merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang sangat masyhur di kalangan kaum muslimin, yang cukup banyak pula memberikan kontribusi bagi agama islam, baik periwayatan hadits bahkan gagasan pembuatan parit dalam Perang Khandaq. Beliau akrab dipangil dengan sebutan "Abu Abdillah", sedangkan nama "Al-Farisi" menunjukkan Beliau berasal dari kebangsaan Persia.


Kisah Sahabat Salman Al-Farisi Curhat 4 Masalah Hidup Kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib

Dalam sebuah khobar yang diriwayatkan dari Said bin Musayyab, dikisahkan bahwa pada suatu hari Khalifah Ali bin Abi Thalib keluar dari rumahnya untuk sebuah keperluan. Di tengah jalan, beliau berpapasan dengan Sahabat Salman Al-Farisi yang wajahnya tampak muram dan gelisah.

Dalam perjumpaan itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Sahabat Salman Al-Farisi, "Bagaimanakah kabarmu pagi ini, wahai Abu Abdillah ?".

Sahabat Salman Al-Farisi lekas menjawab, "Wahai Amiral Mukminin, pagi ini aku berada di antara 4 kesusahan".

Khalifah Ali bin Abi Thalib bertanya lagi, "Apakah 4 kesusahan itu ? semoga Allah SWT senantiasa merahmatimu".

Sahabat Salman Al-Farisi pun menjelaskan 4 masalah itu bahwa ia sedang :

  1. Bersusah hati dalam mencari rizki halal untuk menafkahi keluarga
  2. Bersusah hati untuk tetap melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT
  3. Bersusah hati dari godaan syetan untuk menjalakan maksiat
  4. Bersusah hati terhadap Malaikat Maut yang sedang menanti mencabut ruh

Mendengar 4 masalah dan kegelisahan hati itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib pun berusaha memberikan nasehat dan motivasi, "Bergembiralah wahai Abu Abdillah, sesungguhnya di setiap keempat masalah itu tersimpan derajat yang luhur".

Kemudian Khalifah Ali bin Abi Thalib mengisahkan masalah sama yang pernah dirasakannya kepada Sahabat Salman Al-Farisi, bahwa beliau pernah menemui Rasulullah SAW lalu ditanya, "Bagaimanakah kabarmu pagi ini, wahai Ali ?".

Dengan wajah gelisah pada waktu itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib menjawab atas pertanyaan Rasulullah SAW :

  1. Tiada apapun di rumahku kecuali air minum sedangkan aku bersusah hati atas keadaan anak-anakku
  2. Aku bersusah hati untuk tetap melaksaan ketaatan kepada Allah SWT
  3. Aku bersusah hati atas buruknya akhir hidupku (su'ul khatimah)
  4. Aku bersusah hati terhadap Malaikat Maut yang sedang menanti mencabut ruhku

Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW pun memberikan nasehat, "Bergembiralah wahai Ali, karena sesungguhnya susah terhadap keluarga adalah tutup dari neraka, susah terhadap taat kepada Sang Pencipta adalah menjadikan aman dari siksa, susah terhadap akhir buruk (su'ul khatimah) adalah jihad dan jihad lebih utama daripada ibadah 60 tahun, dan susah terhadap Malaikat Maut adalah penglebur semua dosa-dosa".

Kemudian Rasulullah SAW menegaskan, "Ketahuilah wahai Ali, sesungguhnya rizki hamba-hamba ada di atas kekuasaan Allah SWT sedangkan kesusahanmu tidak akan memberi madharat dan tidak akan memberimu manfaat kecuali kamu akan diberi pahala atas itu. Jadilah orang yang syukur, ta'at, dan berpasrah diri, maka kamu akan menjadi teman-teman Allah SWT (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT)".

Lalu, Khalifah Ali bin Abi Thalib pada saat itu bertanya kepada Rasulullah SAW, "Bagaimanakah aku harus bersyukur kepada Allah SWT ?". Rasulullah SAW pun menjawab, "(Bersyukur) atas agama islam".

Khalifah Ali bin Abi Thalib bertanya lagi, "Bagaimanakah aku harus taat ?". Rasulullah SAW menjawab, "Katakan :

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعلِيِّ الْعَظِيْمِ

"Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung".

Khalifah Ali bin Abi Thalib pun bertanya lagi, "Apa yang harus aku tinggalkan ?". Rasulullah SAW menjawab, "Ghadhab (marah) karena sesungguhnya itu dapat mematikan murka Allah SWT, memberatkan amal timbangan kebaikan, dan dapat menuntun menuju surga".

Catatan :

Jika dilihat dari alur kisahnya, kata "ghadhab (marah)" di sini akan sangat lebih tepat mengarah pada segala macam emosi dan perasaan yang dapat menyebabkan prasangka buruk kepada Allah SWT akibat susahnya kehidupan yang dialami.

Mendengar kisah sama yang dialami Khalifah Ali bin Abi Thalib, Sahabat Salman Al-Farisi ra pun berkata, "Semoga Allah SWT menambahkan kemuliaan padamu, sesungguhnya aku bersusah hati karena perkara-perkara ini, terkhusus sebab menafkahi keluarga".

Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, "Wahai Sahabat Salman Al-Farisi, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : 

من لا يهتمّ للعيال فليس للجنّة نصيب

"Barang siapa yang tidak gelisah (bersusah hati) pada urusan keluarga, maka tiada baginya bagian di dalam surga"

Sahabat Salman Al-Farisi bertanya, "Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda : Pemilik keluarga tidak akan beruntung selamanya ?".

Khalifah Ali bin Abi Thalib menjawab, "Wahai Sahabat Salman Al-Farisi ra, bukan seperti demikian, jika pekerjaanmu dari perkara halal maka kamu adalah orang yang beruntung. Surga rindu pada orang-orang yang prihatin dan bersusah hati mencari perkara halal".

__________________________

Sumber : Kitab Al-Mawaidzul Ushfiruyah, Hadits 22.

Penulis : Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfury.

Tanggapan :