Pengertian Istinjak, Adab, dan Hal Yang Dimakruhkan

Pengertian, Adab, dan Hal Yang Dimakruhkan Ketika Istinjak

PelangiBlog.Com - Istinjak atau cebok merupakan suatu kewajiban bersuci dan menghilangkan najis yang harus dilakukan setelah melakukan kencing atau buang hajat (be’ol). Istinjak boleh dilakukan dengan air, batu, dan sesuatu padat yang tidak dimulyakan.

Sesuatu padat yang tidak dimulyakan memiliki arti segala sesuatu yang tidak bersifat cair dan tentu saja harus suci dan bersih seperti kayu, kertas, tisu, tulang, dan lain-lain. Daun, tangan manusia, dan anggota tubuh hewan tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam istinjak karena semuanya merupakan sesuatu yang dimulyakan.

Hal yang diutamakan dalam beristinjak adalah dengan batu atau sebangsanya kemudian diikuti dengan air. Boleh dilakukan dengan air saja atau batu (dan sebangsanya) sebanyak 3 kali. Jika menginginkan dengan salah satu saja, maka dilakukan dengan air lebih utama.


Adab-Adab Beristinjak Dan Hal-Hal Yang Dimakruhkan Membuang Hajat
Adapun adab-adab dalam beristinjak dan hal-hal yang dimakruhkan membuang hajat antara lain :
  1. Jangan beristinjak sambil menghadap kiblat atau membelakangi kiblat pada tempat yang terbuka seperti di lapangan atau di sawah karena makruh hukumnya. Hal tersebut merupakan tindakan yang tidak menghormat pada kiblat.  Apabila tempatnya tertutup seperti dalam WC maka diperbolehkan.
  2. Jangan membuang kotoran pada air yang tenang. Adapun pada air yang mengalir tetapi aliran itu tidak deras maka dimakruhkan hukumnya. Tetapi Imam An-Nawawi mengharamkan membuang kotoran pada air yang tenang atau air yang mengalir sedikit dan tidak deras.
  3. Jangan membuang kotoran di bawah pohon yang berbuah
  4. Jangan membuang kotoran di tengah jalan 
  5. Jangan membuang kotoran pada tempat berteduh
  6. Jangan membuang kotoran pada lubang tempat binatang kecil hidup
  7. Jangan berbicara saat kencing atau buang hajat kecuali karena terpaksa
  8. Jangan menghadap dan membelakangi matahari dan bulan saat kencing atau buang hajat. Imam An-Nawawi menyatakan dalam kitab Ar-Roudloh dan kitab Muhaddzib bahwa menghadap dan membelakangi matahari dan bulan saat buang hajat tidak dimakruhkan. Beliau menegaskan dalam kitab Syarah Al-Wasithi, keduanya hukumnya mubah karena kemakruhan keduanya tidak asli dan tidak ada sumbernya.

Syarat-Syarat Istinjak Dengan Batu
Syarat-syarat istinjak dengan batu atau sebangsanya adalah sebagai berikut :
  1. Menggunakan 3 batu (atau sebangsanya) atau hanya satu tetapi harus pada 3 tempat yang berbeda pada batu tersebut.
  2. Kotoran yang disucikan belum kering
  3. Orang yang beristinjak belum pindah tempat karena berpindah tempat dapat menyebabkan kotoran menjadi kering. Boleh berpindah tempat sekiranya kotoran pada anus masih lunak
  4. Batu atau sebangsanya tersebut adalah suci, dan tidak kedatangan najis yang baru. Misalnya batu yang akan digunakan terkena najis baru, maka tidak diperbolehkan untuk digunakan. Kotoran yang kering dan menjadi padat tidak diperbolehkan untuk digunakan beristinjak.

Sumber : kitab Fatkhul Qorib Wal Mujib
Penulis : Syekh Muhammad bin Qosim Al-Ghozi.

Tanggapan :