Malaikat Munkar dan Nakir Sebagai Bukti Manusia Adalah Kholifah di Bumi

Malaikat Munkar dan Nakir Sebagai Bukti Manusia Adalah Kholifah di Bumi

Kita tentu mengetahui bahwa Allah SWT memerintahkan dua malaikat yang bertugas untuk menanyai manusia di dalam alam kubur, yaitu Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir. Dijelaskan dalam beberapa kitab kuning bahwa kedua malaikat tersebut seperti dua pria hitam menyeramkan, matanya selalu melotot dan tajam seperti kilat yang menyambar, dan suaranya lantang seperti geledek (guruh).

Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir akan menyuguhi beberapa pertanyaan kepada setiap manusia yang telah memasuki alam kubur untuk dijawab, yang di antaranya adalah siapa Tuhanmu, siapa nabimu, apa agamamu, apa kitabmu, siapa saudaramu, dan lainnya. Tergantung amal perbuatan semasa hidup untuk bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.

Nah, ada sebuah hikmah yang bisa kita ambil dari tugas yang diberikan Allah SWT kepada Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir, yaitu keduanya adalah pembuktian kepada Allah SWT bahwa manusia diciptakan adalah untuk menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi.

Ketika Allah SWT berfirman bahwa Dia akan menciptakan manusia di muka bumi :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"" (Al-Baqarah ayat 30).

Namun, para malikat bertanya kepada Allah SWT :

قَالُوْٓا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
"Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu ?" " (Al-Baqarah ayat 30).

Namun, Allah SWT menjawab dengan tegas :
قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
"Allah SWT berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" " (Al-Baqarah ayat 30).

Untuk membuktikannya, Allah SWT mengutus 2 malaikat yaitu Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir kepada setiap manusia yang telah memasuki alam kubur untuk bertanya siapa Tuhanmu, siapa nabimu, apa agamamu, apa kitabmu, siapa saudaramu, dan lainnya.

Dalam hal ini, orang-orang mukmin adalah orang-orang yang mampu menjawab dengan tegas semua pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan oleh Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir.

Dan dari semua jawaban orang-orang mukmin, Allah SWT memerintahkan kepada Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir untuk memberikan penyaksian di hadapan para malaikat lainnya tentang apa yang telah dijawab oleh hamba mukmin.

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, kita mengetahui bahwa tersirat makna syahadat yaitu penyaksian seorang hamba kepada Allah SWT bahwa Dia adalah Tuhan semua makhluk dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT, karena syahadat minimal harus dua penyaksian sebagaimana demikian.

Kemudian Allah SWT berkata kepada para malaikat, "Wahai para malaikat-Ku, Aku telah mengambil ruhnya (orang mukmin), Aku meninggalkan hartanya untuk orang lain, Aku meninggalkan istrinya di pangkuan orang lain, Aku meninggalkan pelayannya untuk orang lain, dan Aku meninggalkan semua peralatan yang ada di rumahnya untuk orang lain (di sini, Allah SWT menunjukkan kepada para malaikat bahwa semua hal itu merupakan kesedihan yang dia terima setelah meninggal dunia, tetapi dia tetap dalam keyakinannya sebagaimana berikut ini). Maka dia tidaklah ridlo kecuali dari-Ku, dia tidak akan menjawab kecuali tentang Aku. Dan dia mengatakan bahwa Allah Ta'ala adalah Tuhanku, Muhammad adalah nabiku, dan Islam adalah agamaku. Apakah kamu semua (para malaikat) tidak tahu bahwa Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui".

Itu sesuai berdasarkan jawaban Allah SWT kepada para malaikat bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat, sebagaimana pada Surat Al-Baqarah ayat 30 di atas.

Wallahu a'lam bis showab,

Sumber : Kitab Daqoiqul Akhbar, Bab 17 Tentang Penjelasan Pertanyaan Munkar dan Nakir
Penulis : Imam Abdur Rohim bin Ahmad Al-Qodhi.
Tanggapan :