Adab dan Tata Krama Orang Yang Meriwayatkan dan Menerima Riwayat Hadits

Adab dan Tata Krama Orang Yang Meriwayatkan dan Menerima Riwayat Hadits

Hadits merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat beliau, yang mana telah dijadikan sebagai sumber dan pedoman utama setelah kitab suci Al-Qur'an.

Jadi, kedudukan hadits yang bersumber dari Rasulullah SAW sangatlah tinggi dan mulia di mata syariat agama islam. Untuk itulah, ada beberapa hal yang patut diperhatikan bagi orang yang meriwayatkan hadits dan menerima riwayat hadits sebagai adab dan tata kramanya.

ADAB DAN TATA KRAMA ORANG YANG MERIWAYATKAN HADITS
Adapun mengenai adab dan tata krama yang harus dilakukan oleh orang yang meriwayatkan hadits, maka ada beberapa hal yang patut diperhatikan :

1. Niat Yang Baik
Adab dan tata krama pertama yang harus dilakukan oleh orang yang meriwayatkan hadits adalah memiliki niat yang tulus dan ikhlas untuk mensyiarkan agama islam semata-mata karena Allah SWT. Orang yang meriwayatkan hadits tidak selayaknya didasari dengan niat yang bersifat duniawi, misalnya karena motif buruk tertentu, mencari nama, mendekati penguasa, dan lain sebagainya.

2. Bersuci
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa kedudukan hadits merupakan kedudukan tertinggi kedua setelah Al-Qur'an, di mana dasar dan hukum-hukum syariat islam bersumber dari keduanya, maka sangat diserukan bagi orang yang hendak meriwayatkan hadits untuk bersuci terlebih dahulu dari berbagai macam najis dan hadats, baik hadast kecil maupun hadats besar.

Namun, makna bersuci di sini tentu saja tidak hanya sebatas mensucikan diri dari najis dan hadast, tetapi juga sangat penting untuk mensucikan hati dan akhlaq dari sifat-sifat tercela dalam kehidupan kesehariannya. Mengapa demikian ? karena jika orang yang meriwayatkan hadits memiliki sifat-sifat yang kurang layak sebagai seorang perawi, maka akan mempengaruhi kualitas hadits dalam diterima dan ditolaknya sebagai dasar dan pedoman, tentu saja ini semua berdasarkan kesepakatan para ulama' ahli hadits.

3. Menjadi Sosok Yang Ada Saat Dibutuhkan
Orang yang meriwayatkan hadits diibaratkan sebagai tokoh agama penting dalam masyarakat, sehingga sudah sepatutnya untuk menjadi sosok yang dibutuhkan oleh murid-muridnya (orang yang menerima riwayat). Jadi, tidak seharusnya orang yang meriwayatkan hadits terlalu sering melakukan petualangan, tour, atau terlalu sibuk dengan urusan pribadi.

4. Tidak Meriwayatkan Hadits di Daerah Yang Sudah Memiliki Periwayat Hadits
Pada masa ulama' salaf dulu, setiap daerah atau kota biasanya memiliki beberapa periwayat sendiri. Jadi, tidak dianjurkan jika seorang rawi hendak menjadi periwayat hadits di daerah yang sudah memiliki periwayat hadits. Begitu juga halnya, jika ada seseorang dari luar daerah ingin meminta riwayat darinya, hendaklah rawi tersebut menyarankan untuk meminta riwayat hadits pada rawi yang ada di daerahnya. Karena jika tidak, hal itu akan menyebabkan perselisihan kecil, kecuali jika karena adanya perkara yang mendesak.

5. Tidak Menolak Meriwayatkan Pada Orang Yang Memiliki Niat Kurang Sempurna
Orang yang meriwayatkan hadits hendaknya memiliki sikap yang bijaksana, ia harus menyampaikan ilmu dan ajaran kepada semua orang, baik orang yang memiliki prilaku baik maupun buruk. Jadi, tidak ada salahnya jika meriwayatkan sebuah hadits kepada orang yang memiliki niat yang kurang sempurna atau prilaku yang kurang baik, karena tidak ada yang tahu jika Allah SWT memberikan sebuah hidayah lantaran penerimaan riwayat tersebut.

6. Meriwayatkan Dalam Keadaan Duduk Dengan Sikap Waqar
Waqar merupakan sikap tenang, tidak ceroboh, santai, dan tidak semberono dalam melakukan apapun. Tentu saja seseorang yang tidak memiliki sikap waqar, maka hal itu akan menjatuhkan wibawanya dari pandangan orang lain.

Sikap ini penting untuk disandang bagi seorang periwayat hadits, karena salah satu syarat hadits yang diterima adalah rawi yang meriwayatkan adalah seorang yang adil. Makna adil tidak hanya sebatas pada taqwa dan menjaga hati serta akhlaq dari sifat-sifat tercela saja, tetapi juga menjaga diri dari semua prilaku yang dapat menjatuhkan martabat dan wibawanya dalam pandangan masyarakat.

7. Tidak Meriwayatkan Hadits Dalam Keadaan Berdiri
Sebagaimana penjelasan singkat pada poin keenam di atas, maka meriwayatkan hadits dengan berdiri merupakan prilaku yang bisa menjatuhkan martabat dan kewibawaan dalam pandangan masyarakat, kecuali karena keterpaksaan oleh keadaan.

8. Tidak Meriwayatkan Hadits Dalam Keadaan Tergesa-gesa
Meriwayatkan hadits dalam keadaan tergesa-gesa tidak hanya menjatuhkan martabat dan wibawanya, tetapi juga dikhawatirkan ketidakkonsentrasian rawi itu dapat menyebabkan adanya kelupaan pada lafadz dan kalimat hadits. Jika sudah demikian, kualitas hadits pun juga akan ikut terpengaruh.

9. Tidak Meriwayatkan Hadits di Tengah Jalan
Sebagaimana penjelasan singkat pada poin keenam di atas, maka meriwayatkan hadits di tengah jalan merupakan prilaku yang bisa menjatuhkan martabat dan kewibawaan dalam pandangan masyarakat, kecuali adanya keadaan yang memaksanya melakukan demikian.

10. Menahan Riwayat Saat Terjadi Kelupaan
Hendaknya orang yang meriwayatkan hadits tidak melanjutkan penyampaian riwayatnya jika terjadi adanya kelupaan, baik karena faktor usia yang sudah menua atau karena sakit. Begitu juga jika memang sudah terlanjur, maka hendaklah menjelaskan kepada orag yang mendengar riwayat darinya bahwa ia lupa atau sebagainya. Tentu saja ini semua demi kemurnian kalimat hadits yang benar-benar bersumber dari Rasulullah SAW.

11. Memiliki Penulis
Adab dan tata krama yang juga sebaiknya dilakukan oleh seorang rawi dalam meriwayatkan hadits, baik dalam keadaan empat mata maupun dalam suatu forum, adalah meminta orang yang mendengar riwayatnya untuk menulis riwayat tersebut. Tujuannya adalah mencegah adanya kelupaan hafalan dalam kalimat hadits tersebut, kecuali sudah diketahui bahwa rawi yang mendengar riwayatkan memang memiliki ingatan yang sangat kuat.

ADAB DAN TATA KRAMA ORANG YANG MENERIMA RIWAYAT HADITS
Adapun adab dan tata krama yang harus dilakukan oleh orang yang menerima riwayat hadits dari seorang guru (rawi yang memberi riwayat kepadanya), maka bisa dilihat sebagai berikut ini :

1. Niat Yang Baik
Pertama adalah mengontrol niat dalam hati untuk mendengarkan sebuah riwayat hadits semata-mata karena Allah SWT dan menyepikan niat dari segala macam bentuk keinginan duniawi.

2. Bersuci
Sebagaimana penjelasan pada adab dan tata krama seorang guru nomor dua di atas, maka seorang murid (orang yang menerima riwayat hadits) pun hendaknya mensucikan diri dari berbagai macam akhlaq-akhlaq tercela, hadast, dan najis.

3. Membuat Gurunya Bersikap Waqar
Sebagai seorang murid yang beradab baik terhadap gurunya, ketika ia hendak mendengar riwayat hadits, maka sebisa mungkin ia berusaha dan menunggu gurunya dapat bersikap waqar (yaitu tenang dan santai) terlebih dahulu. Hal ini ditujukan agar gurunya benar-benar memiliki konsentrasi baik dalam meriwayatkan hadits, sehingga dapat mencegah kelupaan atau sebagainya.

4. Tidak Terhenti Mengambil Faidah Karena Malu Atau Sombong
Para ulama' ahli hadits tentu saja tidak memiliki rasa malu dan sombong dalam mengambil faidah untuk terus memperoleh riwayat-riwayat hadits dari rawi-rawi yang berbeda-beda. Begitu juga halnya, terkadang seorang kakak menerima riwayat hadits dari adiknya, ayah menerima riwayat hadits dari anaknya, senior menerima riwayat hadits dari juniornya, guru menerima riwayat hadits dari muridnya, dan sebagainya. Semua itu dilakukan dengan menyingkirkan rasa malu untuk terus memperoleh kebaikan dan meninggalkan sifat sombong karena merasa diri lebih alim atau sebagainya.

5. Menulis Riwayat Dengan Sempurna
Orang yang menerima riwayat hadits hendaknya menuliskan kalimat hadits dengan sempurna, mulai dari shighat (bentuk kalimatnya), sanad-sanadnya, serta kalimatnya. Demikian itu akan dapat mencegah dari kelupaan, baik dalam sanad maupun matannya, kecuali mereka yang memiliki ingatan yang sangat kuat dan terjaga.

6. Memperhatikan Batasan dan Hafalannya
Bagi seorang yang hendak menerima riwayat hadits, maka hal yang sepatutnya untuk diperhatikan adalah mengenai masalah batasan dan hafalannya. Jangan sampai karena kelelahan hafalan, namun dia memaksanya untuk menerima hafalan lain. Jika sudah demikian, maka hal tersebut akan merusak hafalan lainnya.

7. Selalu Mengingat-ingat Hafalannya
Hal penting yang juga perlu dilakukan oleh orang yang telah menerima riwayat hadits adalah menjaga hafalan tersebut dengan senantiasa mengingat-ingatnya. Begitu juga halnya, dengan semakin sering ia menyampaikan riwayat hadits tersebut kepada orang lain, maka hafalannya pun akan semakin kuat pula.

8. Menyampaikan Riwayat Yang Telah Didengar Kepada Rawi Lain
Sebagaimana kita mengetahui bahwa kewajiban seorang murid setelah memperoleh ilmu dari gurunya adalah menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Demikian juga berlaku adalam periwayatan hadits.

9. Berhenti Pada Batas Pengetahuannya
Adan dan tata krama selanjutnya adalah jika orang yang menerima riwayat hadits tersebut hendak menyalurkan riwayatnya kepada orang lain, maka sepatutnya ia meriwayatkan berdasarkan apa yang sudah ia peroleh dari gurunya, jangan berbicara lebih dengan didasari pada apa yang tidak yang tidak ia ketahui, karena hal itu merupakan mengada-adakan sebuah hadits atas nama Rasulullah SAW.

Sumber : Kitab Minhatul Mughits, Bab Adab Guru dan Murid
Penulis : Syekh Hafidz Hasan Al-Mas'udi

Baca lebih lanjut : Kumpulan Materi Ilmu Hadits.
Next Post Previous Post
Advertisement here