Sejarah Shalawat Badar Karya KH. Ali Mansur

Sejarah Shalawat Badar Karya KH. Ali Mansur

Shalawat Badar atau dikenal dengan syair shalawat "Shalatullah Salamullah" merupakan syair shalawat yang berisikan pujian, doa shalawat kepada Nabi SAW, dan doa-doa keselamatan untuk semua kaum muslimin muslimat dengan washilah para syuhada' yang gugur di Perang Badar.

Shalawat badar ini tidaklah asing bagi warga Nahdliyyin, karena shalawat ini biasanya dilagukan sebagai adat pujian setelah adzan dan sebelum iqamah bagi masyarakat Nahdliyyin (NU) di berbagai daerah dan merupakan lagu Mars NU (Nahdlatul Ulama').

Baca juga : Sholawat Badar - Sholatullah Salamullah, Lirik dan Terjemah Indonesia.

Pencipta Shalawat Badar
Shalawat Badar merupakan shalawat hasil karya Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur pada sekitar tahun 1960. Beliau merupakan seorang kyai NU yang lahir pada 23 Maret 1921 di Kota Jember dan dimakamkan di Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur merupakan cucu dari Al-Maghfurlah KH. Muhammad Shiddiq Jember dari jalur ayah. Sedangkan dari jalur ibu, beliau merupakan keturunan dari Al-Maghfurlah Kyai Basyar, salah seorang kyai di Kota Tuban.

Semasa hidupnya, Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur banyak belajar dan mengaji di berbagai pondok pesantren, di antaranya adalah Pondok Pesantran Termas Pacitan, Pondok Pesantren Lasem, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, hingga Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Menurut KH. Syakir Ali, putra kedua Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur, sewaktu masih kecil Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur belajar di Tuban. Setelah itu, beliau pergi dari Tuban ke Termas hanya dengan bermodal sepeda onthel dan nasi jagung. Untuk memenuhi kebutuhan membeli kitab selama di pesantren, beliau menerima jasa ojek ke pasar.

Menurut Gus Dur (Al-Maghfurlah KH. Abdurrahman Wahid), selama di Pesantren Lirboyo Kediri, Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur sangat menyukai mengaji ilmu "arrudh" (ilmu sastra dan syair bahasa Arab). Bahkan tak jarang, beliau pun sering diajak diskusi oleh pengasuh pesantren mengenai masalah yang berhubungan dengan "arrudh".

Nah, seusai menjadi santri, Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur kembali ke Kota Tuban. Beliau mulai aktif dan bergabung dalam sebuah organisasi bernama GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Tak hanya itu, beliau juga aktif sebagai seorang Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan, hingga akhirnya beliau dipromosikan sebagai Kepala Kementerian Agama (Kemenag) di tingkat kabupaten.

Pada tahun 1955, Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur dipilih menjadi anggota Konstituante sebagai perwakilan partai NU Cabang Bali. Sedangkan pada tahun 1962, beliau memutuskan untuk pindah ke Banyuwangi dan dipercaya sebagai Ketua Cabang NU Banyuwangi. Nah, di Banyuwangi inilah beliau melahirkan karya syair shalawat yang dikenal sebagai Shalawat Badar.

Sejarah Shalawat Badar
Terciptanya syair Shalawat Badar ini bukanlah sebuah karya biasa yang didasarkan karena kegemaran Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur dalam ilmu syair Arab, tetapi ada hal besar yang melatarbelakanginya.

Dalam terciptanya syair Shalawat Badar, Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur memperoleh inspirasi besar dari Kitab Mandzumah Ahlil Badri Al-Musamma Jaliyyat Al-Kadar fi Fadhaili Ahlil Badri karya Imam As-Sayyid Ja’far Al-Barzanji.

Sebelum Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur mencoba untuk memulai menulis syairnya, beliau seolah mendapatkan sebuah petunjuk di dalam mimpi. Dalam mimpi itu, beliau didatangi oleh orang-orang berjubah putih yang diduga adalah Ahlul Badr (Para Syuhada' Perang Badar). Tak hanya beliau, istri Beliau, Nyai Khatimah, juga bertemu dengan Nabi Muhammad SAW.

Dalam catatan pribadi Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur yang dibeberkan oleh putra kedua beliau yaitu KH. Syakir Ali ada catatan dalam bahasa Pegon Latin sebagai berikut ini :

"Naliko kulo gawe lagune Shalawat Badar, yoiku sak ba'dane teko songko Makkah Al-Mukarramah, kang tak anyari waktu lailatul qiro'ah kelawan ngundang almarhum Haji Ahmad Qusyairi sak muride. Yoiku ono malem jum'at tahun 1960, tonggoku podo ngimpi weruh ono bongso sayyid utowo habib podho melebu ono omahku. Wa karimati, Khotimah, ugo ngimpi ketho' kanjeng Nabi Muhammad iku rangkul-rangkulan karo al-faqir. Kiro-kiro dino jum'at ba'da shubuh, tonggo-tonggo podho ndodok lawang pawon, podho takon: 'Wonten tamu sinten mawon kolo ndalu?'. Lajeng kulo tanglet Habib Hadi al-Haddar, dan dijawab: 'Haa ulaai arwaahu ahlil badri rodhi-yalloohu 'anhum'. Alhamdulillahi Robbil 'aalamiin""

Artinya :
"Ketika saya membuat lagu Shalawat Badar, yaitu setelah sampai dari Mekkah Al-Mukarromah, yang kuperbarui pada waktu lailatul qira'ah dengan mengundang Al-Marhum KH. Ahmad Qusyairi beserta santri-santrinya, yaitu pada Malam Jum'at, tahun 1960. Tetanggaku melihat ada sebangsa sayyid atau habib yang memasuki rumahku. Dan istri muliaku, Khatimah, juga bermimpi melihat Baginda Nabi Muhammad SAW saling berpelukan dengan Al-Faqir (Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur). Kira-kira Hari Jum'at setelah subuh, para tetanggaku saling melihat pintu dapur, sambil bertanya, "Ada tamu siapa saja tadi malam ?". Lalu, saya bertanya kepada Habib Haddar dan dijawab "Mereka adalah arwah para syuhada' Perang Badar, radliyallahu anhum", Alhamdulillahi Rabbil Alamin".

Salah satu hal yang melatarbelakangi terciptanya Shalawat Badar, pada masa itu adalah masa di mana organisasi PKI (Partai Komunis Indonesia) telah mulai menjadi-jadi dan tidak segan-segan membunuh para kyai di kalangan pedesaan. Dengan demikian, shalawat ini bisa maksudnya sebagai doa sholawat dengan tawassul melalui para syuhada' Perang Badar demi terjaganya NKRI dan dilibaskannya PKI.

Dalam keputusan Muktamar NU yang ke-28 di Krapyak, Yogyakarta, Shalawat Badar dikukuhkan menjadi lagu Mars Nahdlatul Ulama (NU), yang kemudian ditegaskan kembali oleh Gus Dur saat masih menjabat sebagai ketua PBNU pada Muktamar NU yang ke-30 di Lirboyo Kediri. Sedangkan pada Harlah NU yang ke-91, Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur dianugerahi atas jasa besar beliau dalam membuat syair shalawat ini, sebagai "Bintang Kebudayaan".

Menurut ulasan KH. Syakir Ali, putra kedua Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur, "Awalnya banyak yang tidak tahu siapa penulis Shalawat Badar  sebelum Gus Dur menyebutkan Kiai Ali sebagai pengarangnya. Saat itu Gus Dur takut Shalawat Badar diakui orang luar. Gus Dur minta saya bawakan data penguat bila Kiai Ali memang penulis Shalawat Badar  ke Jakarta,".

Setelah demikian itu, nama Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur terus jadi bahan pembicaraan di kalangan para ahli sejarah dan budayawan, terutama dari kalangan Nahdliyin. Sehingga akhirnya banyak para peziarah dari berbagai daerah datang ke Desa Maibit untuk ziarah dan membuktikan kebenaran ucapan Gus Dur.

Saat ini di makam Kiai Ali tertulis prasasti Shalawat Badar  yang terletak dibagian barat makam. Setiap hari selalu ada yang berziarah ke makam, terutama para santri yang belajar di pesantren milik putra-putri Al-Maghfurlah KH. Ali Mansur di sekitar pesantren.

Sumber online : Nu.Or.Id.
Tanggapan :