Hadits 5 Malam Mustajabah Palsu atau Dhaif ? Bolehkah Mengamalkannya ?

Hadits 5 Malam Mustajabah Palsu atau Dhaif ? Bolehkah Mengamalkannya ?

Dari banyaknya hadits, ada sebuah hadits yang cukup menjadi perbincangan di para ulama' ahli hadits di dalam beberapa kitabnya, bahkan tak jarang pula ditulis di dalam beberapa media online saat ini. Hadits itu adalah hadits yang menjelaskan tentang terkabulkannya doa (mustajabah) di dalam lima malam :
خَمْسُ لَيَالٍ لَا تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَةُ : أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ النَّحْرِ
"Ada 5 malam yang tidak ditolak doa di dalamnya, yaitu : malam pertama Bulan Rajab, malam Nisfu Sya'ban, malam Jum'at, malam Idul Fitri, dan malam hari raya qurban".

Hadits tersebut sudah umum digunakan sebagai dasar dalam keistimewaan di Bulan Rajab dan Malam Nisfu Sya'ban, bahkan terkait dengan melakukan pembacaan Surat Yasin 3 kali dan doa Malam Nisfu Sya'ban.

Namun, di sisi lain banyak sekali media online yang menyebutkan bahwa hadits tersebut tidak layak untuk diamalkan karena lemahnya kualitas hadits, bahkan dianggap sebagai hadits palsu. Untuk itulah pada posting ini akan membahas mengenai bagaimana kualitas hadits 5 malam mustajabah di atas.

PENDAPAT ULAMA' HADITS MENGENAI HADITS 5 MALAM MUSTAJABAH
Hadits yang berisikan tentang keistimewaan 5 malam mustajabah tersebut memang sudah marak menjadi perbincangan di antara para ahli hadits, di antaranya adalah :

Pertama, dalam Kitab Mausu'atul Fiqhiyyah Juz 2, Bab Ihyaul Lail No. 11, dijelaskan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asakir (Kitab Tarikh Damsyq, 10/408), Imam Ad-Dailami dalam Kitab Musnad Firdaus, Imam Baihaqi dari hadits riwayat Umar. Namun, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani menyatakan hadits tersebut dhaif melalui perkataan beliau :
وَطُرُقُهُ كُلُّهَا مَعْلُوْلَةٌ
"Jalur-jalur sanad hadits itu semuanya terdapat ilat (cacat)".

Kedua, di antara ulama' hadits lainnya berpendapat bahwa hadits tersebut bersumber dari perkataan sahabat dan tabi'in (hadits mauquf atau a'tsar). Imam Abdur Rozzaq meriwayatkan hadits tersebut dari Sahabat Ibnu Umar di dalam Kitab Al-Mushannif secara muquf, sedangkan sanad-sanadnya lemah (dhaif).

Ketiga, Syekh Albani (seorang tokoh wahabi) menyatakan bahwa hadits 5 malam mustajabah tersebut adalah adalah hadits maudhu' (hadits palsu) di dalam kitabnya, Silsilatul Dhaifah.

Demikian beberapa pendapat para ulama' ahli hadits yang bisa mewakili untuk menunjukkan kedudukan dan kualitas mengenai hadits 5 malam yang dikabulkan doa (mustajabah), begitu pula para ulama' ahli hadits lainnya banyak yang mengatakan hadits tersebut dhaif dan sebagian mengatakan madhu' (palsu).

Baca pengertian Hadits Maudhu' : Pengertian dan Contoh Hadits Maudhu' (Hadits Palsu)
Baca pengertian Hadits Mauquf (A'tsar) : Pembagian Hadits Dari Segi Sandaran dan Sumbernya.

SANGAT DIPERBOLEHKAN MENGAMALKAN HADITS 5 MALAM MUSTAJABAH
Hadits mengenai 5 malam yang dikabulkannya doa (mustajabah) di atas memang menjadi masalah khilafiyyah, sehingga untuk mengamalkannya pun terjadi khilafiyah juga, di antaranya ada yang menerima untuk mengamalkannya dan di antaranya ada yang menolak keras.

Di media online sendiri banyak sekali blog yang menjelaskan kedudukan hadits tersebut, namun seolah mengecam muslim yang mengamalkan hadits 5 malam yang mustajabah ini karena kemaudhu'annya (palsu). Dan kebanyakan yang dijadikan sandaran dasar adalah penjelasan dari Syekh Albani yang merupakan tokoh kaum wahabi, padahal banyak ulama' yang menyatakan pemikiran Syekh Albani terkesan membenturkan syariat islam dan mengubah banyak hukum menjadi hukum tidak boleh atau haram.

Mayoritas ulama' ahli hadits yang terpercaya mengatakan bahwa hadits tersebut adalah lemah (dhaif). Dan meskipun hadits tersebut memiliki jalur-jalur sanad yang lemah (dhaif) tetapi tidak menutup ruang untuk mengambil faidah dengan mengamalkannya. Dalam salah satu maqolah. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :
ضَعِيْفُ الْحَدِيْثِ اَحَبُّ اِلَيَّ مِنَ الرَّأْىِ
"Hadits dhaif (lemah) lebih aku sukai daripada pemikiran orang".

Nah, terkait dengan hadits 5 malam yang dikabulkan doa (mustajabah) di atas, dalam Kitab Ghaniyatul Multamis, Imam Khatib Al-Baghdadi menceritakan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirimkan surat kepada Ady bin Artho'ah yang berisi :
عَلَيْكَ بِاَرْبَعِ لَيَالٍ فِي السَّنَةِ، فَاِنَّ اللّٰهَ يُفَرِّغُ فِيْهِنَّ الرَّحْمَةَ : اَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ وَلَيْلَةُ النَّحْرِ
"Tetapkanlah dirimu di dalam 4 malam pada (setiap) tahun karena sesungguhnya Allah SWT telah memberikan rahmat di dalam malam-malam itu, yaitu malam pertama Bulan Rajab, malam Nisfu Sya'ban, malam Idul Fitri, dan malam hari raya qurban".

Bahkan Imam Syafi'i pernah mengatakan :
اِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْ خَمْسِ لَيَالٍ : فِيْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْاَضْحٰى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَاَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَاِناَ اَسْتَحِبُّ كُلَّ مَا حَكَيْتُ فِيْ هٰذِهِ اللَّيَالِى مِنْ غَيْرِ اَنْ يَكُوْنَ فَرْضًا
"Sesungguhnya doa dikabulkan di dalam 5 malam, yaitu pada malam Jum'at, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama Bulan Rajab, dan malam Nisfu Sya'ban. Dan aku sangat menyukai semua apa yang telah aku ceritakan mengenai malam-malam ini tanpa adanya kewajiban (tidak diwajibkan tetapi disunnahkan)".

Secara logika dan pemikiran sehat, jika hadits tersebut dianggap oleh palsu dan mutlaq ditolak untuk mengamalkannya, maka Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Imam Syafi'i tentu tidak akan mengatakan hal demikian itu. Begitu pula para ulama' lain yang menjadikannya dasar beberapa kitab kuning yang telah disusun, juga para kyai yang mengajikan kitab-kitab kuning di pondok-pondok pesantren.

Baca juga : Bolehkah Hadits Dhaif Dijadikan Dasar dan Pedoman ?.

Untuk itulah, tentu sangat DIPERBOLEHKAN untu mengamalkan dan menjadikan dasar hadits mengenai 5 waktu mustajabah di atas. Jadi, apa yang telah digembor-gemborkan oleh orang-orang wahabi dan kaum-kaum yang memiliki pemikiran kaku dalam agama mengenai penolakan keras dalam mengamalkan hadits 5 malam mustajabah di atas, merupakan pemikiran yang tidak tepat.

Dan semoga dengan tulisan sederhana ini bisa memberikan sedikit wawasan, hanya Allah SWT yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.