4 Hal, Nabi Adam Merasa Iri Pada Umat Rasulullah SAW

4 Hal, Nabi Adam Merasa Iri Pada Umat Rasulullah SAW

Umat Rasulullah SAW merupakan umat yang diistimewakan oleh Allah SWT melebihi umat-umat nabi dan rosul terdahulu. Derajat keistimewaan umat Rasulullah SAW ini tidak lain merupakan pancaran kemuliaan nur Rasulullah SAW melebihi nabi-nabi dan rasul-rasul terdahulu.

Artinya, Rasulullah SAW adalah rosul yang terpilih di antara nabi-nabi dan rosul-rosul lainnya, jelas saja Rasulullah SAW mendapatkan derajat mulia di sisi-Nya melebihi nabi-nabi dan rosul-rosul lainnya, sehingga kemuliaan Rasulullah SAW pun merambat kepada umat Beliau melebihi umat-umat nabi dan rosul lainnya.

Nah, saking istimewanya umat Rasulullah SAW di sisi Allah SWT, tidak heran banyak nabi dan rosul mengidolakan umat seperti umat Rasulullah SAW, bahkan salah satu di antaranya adalah merasa iri. Seperti itulah kata kiasan yang bisa digunakan untuk menggambarkan keistimewaan umat Rasulullah SAW.

Dalam salah satu riwayat Nabi Adam as pernah merasa iri kepada umat Rasulullah SAW :

وَحُكِيَ اَنَّ اٰدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ : اِنَّ اللّٰهَ اَعْطَى اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اَرْبَعَ كَرَامَاتٍ مَا اَعْطَانِيْهَا

"Dikisahkan bahwa Nabi Adam AS berkata : sesungguhnya Allah SWT memberikan empat kemuliaan kepada umat Nabi Muhammad SAW, yang mana Dia tidak memberikannya kepadaku".


1. Diterimanya Taubat Di Kota Mekkah

اِحْدَاهَا قُبُوْلُ تَوْبَتِيْ كَانَ بِمَكَّةَ وَاُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَتُوْبُوْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ فَيَقْبَلُ تَوْبَتَهُمْ

"Pertama, diterimanya taubatku ketika di Kota Mekkah. Sedangkan umat Nabi Muhammad SAW bertaubat di manapun tempatnya lalu Allah SWT menerima taubat mereka".

Setelah Nabi Adam AS dan Ibu Hawa bermaksiat dengan memakan buah khuldi di surga, Allah SWT menghukum dan memenjarakan keduanya di dalam dunia. Namun, keduanya tiada henti menangis, menyesal, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Barulah ketika keduanya berada di Kota Mekkah, Allah SWT mengampuni dosa Nabi Adam AS dan Ibu Hawa.

Hal itu berbeda dengan umat Rasulullah SAW, Allah SWT menjadikan di manapun tempatnya dan kapanpun waktunya untuk bertaubat dari dosa-dosa. Seberapapun besar dosa seorang hamba, jika dia mau bertaubat dan menyesali kesalahannya, maka rohmat dan ampunan Allah SWT lebih luas dari murka-Nya.

2. Dilepaskannya Pakaian Surga

وَالثَّانِيَةُ اِنِّيْ كُنْتُ لَابِسًا فَلَمَّا عَصَيْتُ جَعَلَنِيْ عُرْيَانًا وَاُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُوْنَ عُرَاةً فَيُلْبِسَهُمْ

"Kedua, sesungguhnya aku mengenakan pakaian, ketika aku bermaksiat, maka Allah SWT menjadikanku telanjang. Sedangkan umat Nabi Muhammad SAW bermaksiat dalam keadaan telanjang, namun Dia memberikan pakaian kepada mereka".

Setelah Nabi Adam AS dan Ibu Hawa bermaksiat kepada Allah SWT dengan memakan buah khuldi, Allah SWT melepas semua pakaian mewah yang indah dari surga. Bahkan dalam salah satu riwayat, dahulu kulit Nabi Adam AS berbentuk seperti kuku, ketika dia bermaksiat, bentuk kuku itu hanya tersisa di ujung tangan dan kaki.

Baca lebih jelas : Proses Penciptaan Nabi Adam as Dalam Kitab Daqoiqul Akhbar.

Sedangkan umat Rasulullah SAW yang senantiasa bermaksiat dengan melakukan perbuatan zina dan sebagainya, namun Allah SWT tetap memberi mereka pakaian di dunia, bahkan mampu membeli lalu mengenakan pakaian baru yang lebih bagus.

3. Terpisah Dengan Sang Istri, Ibu Hawa

وَالثَّالِثَةُ لَمَّا عَصَيْتُ فَرَّقَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِمْرَأَتِيْ وَاَمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُوْنَ اللّٰهَ وَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَهُمِ وَبَيْنَ اَزْوَاجِهِمْ

"Ketiga, ketika aku bermaksiat maka Allah SWT memisahkan antara aku dan istriku. Sedangkan umat Nabi Muhammad SAW bermaksiat kepada Allah SWT dan Dia tidak memisahkan antara mereka dan istri-istri mereka".

Dikisahkan bahwa ketika Nabi Adam AS dan Ibu Hawa diusir dari surga setelah melakukan maksiat, keduanya dipisah antar pojok bumi dengan pojok bumi lainnya.

Namun, umat Rasulullah SAW tetap mampu berkumpul bersama istri, anak-anak, dan keluarga setelah melakukan dosa besar. Ya, semua memanglah atas kehendak Allah Yang Maha Berkehendak.

4. Diusir Dari Surga

وَالرَّابِعَةُ اِنِّيْ عَصَيْتُ فِى الْجَنَّةِ فَاَخْرَجَنِيْ مِنْهَا وَاُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُوْنَ اللّٰهَ تَعَالٰى خَارِجَ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلَهُمْ فِيْهَا اِذَا تَابُوْا

"Keempat, sesungguhnya aku telah bermaksiat di dalam surga lalu Allah SWT mengusirky dari surga. Sedangkan umat Nabi Muhammad SAW bermaksiat kepada Allah SWT di luar surga lalu Dia memasukkan mereka ke dalam surga tatkala mereka bertaubat".

Jika dulu Nabi Adam AS dan Ibu Hawa justru diusir dari surga dan diturunkan ke dunia setelah melakukan maksiat. Namun, hal itu berbeda dengan umat Rasulullah SAW, seberapa besar dan berat dosa seorang hamba di dunia, jika dia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah SWT akan membalasnya dengan surga.


Wallahu a'lam bis showab,

Sumber riwayat : Kitab Nashoihul Ibad, Bab ke-4, Maqolah ke-27

Penulis : Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi (Imam Nawawi Al-Banteni)