Kisah Mayat Wali Allah Dibuang di Penampungan Sampah

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa seorang pendosa dan ahli maksiat yang senantiasa berharap memperoleh rahmat Allah, lebih dicintai Allah SWT daripada seorang yang ahli ibadah tetapi ia putus asa dari rahmat-Nya. Adapun hadits tersebut bisa dilihat sebagaimana berikut ini :

الفَاجِرُ الرَّاجِى رَحْمَةَ اللّٰهِ تَعَالٰى اَقْرَبُ اِلَى اللّٰهِ تَعَالٰى مِنَ الْعَابِدِ الْمُقْنِطِ

Seseorang yang berbuat maksiat yang berharap akan rahmat Allah Ta’ala lebih dekat dari Allah Ta’ala dari pada seorang hamba yang berputus asa (memutuskan rahmat-Nya)”.

Nah, berkaitan dengan hadits di atas, ada sebuah kisah menarik lagi inspiratif tentang mayat seorang wali Allah yang dibuang di penampungan sampah yang terjadi pada masa Nabiyullah Musa as.

Baca juga : Kisah Wali Allah Yang Diusir Nabi Musa.


Kisah Nabi Musa dan Mayat Waliyullah Yang Dibuang di Tempat Sampah

Dalam kisah zaman dahulu, tepatnya pada masa Nabi Musa as, ada seseorang dari penduduk kota yang telah meninggal dunia. Orang tersebut dinilai masyarakat sebagai orang yang fasik, suka melakukan maksiat dan dosa, sehingga penduduk kota tidak mau untuk memandikan dan mengubur layaknya mayat pada umumnya. Bahkan sampai-sampai mereka menyerat kakinya, lalu membuangnya ke penampungan sampah seperti bangkai hewan.

Atas kejadian tersebut, Allah SWT pun memberikan wahyu kepada Nabi Musa as, "Wahai Musa, telah meninggal dunia kekasih-Ku (wali-Ku) yang dibuang di penampungan sampah, sedangkan orang-orang tidak mau memandikan, mengafani, dan menguburkannya. Pergilah kamu kesana, lalu mandikanlah ia, kafanilah ia, dan sholati ia".

Atas petunjuk dari Allah SWT, Nabi Musa pun bergegas untuk melaksanakan misi tersebut. Ketika Nabi Musa sampai di kota tersebut, beliau pun bertanya tentang seorang mayat yang dibuang di tempat sampah. 

Para penduduk menjawab dan membenarkan kabar tersebut, mereka berkata, "Seseorang telah mati dengan sifat demikian dan demikian dan sesungguhnya dia adalah orang fasik yang dilaknati".

Mereka menjelaskan bahwa orang yang meniggal tersebut merupakan orang yang fasik, mereka juga menjelaskan tentang sifat-sifat buruk si mayat sehingga para penduduk membuangnya ke penampungan sampah begitu saja.

Lalu Nabi Musa as bertanya, "Di manakah tempatnya ? sesungguhnya Allah Yang Maha Luhur telah memberi wahyu kepadaku karena dia. Beritahu aku tempatnya".

Para penduduk pun mengantarkan beliau sampai ke sana. Ya, Nabi Musa melihat mayat itu tergeletak di tengah kerumunan sampah, sedangkan para penduduk tetap menjelaskan buruknya akhlak mayat itu selama hidupnya.

Karena merasa kebingungan, akhirnya Nabi Musa bermunajah kepada Allah, "Wahai Tuhanku, Engkau memerintahkanku untuk menguburnya, sedangkan orang-orang memberikan kesaksian buruk terhadapnya. Engkau lebih mengetahui tentangnya atas kebaikan dan keburukan".

Lalu Allah SWT pun memberikan wahyu kepada Nabi Musa as,"Wahai Musa, benar apa yang mereka katakan tentangnya. Sayangnya, ia meminta pertolongan kepada-Ku sebelum kematiannya dengan 3 perkara. Seandarinya semua pendosa meminta kepadaku dengan 3 perkara itu, pasti aku akan memberikannya. Bagaimana aku tidak merahmatinya, ia benar-benar meminta dengan segenap hatinya, sedangkan Aku adalah Maha Pengasih dan Penyayang".

Nabi Musa pun bertanya lagi kepada Allah SWT “Wahai Tuhanku, lalu apa 3 perkara itu ?”. 

Kemudian Allah SWT menjelaskan kepada beliau : Ketika ajalnya sudah dekat, ia berdoa kepada-Ku :

  1. Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui semua tentangku. Aku telah berbuat maksiat, sedangkan dalam lubuk hatiku, aku membencinya. Hanya saja, terkumpul 3 perkara dalam hatiku sehingga aku melakukan maksiat meskipun hatiku sendiri membencinya, yaitu hawa nafsu, pergaulan buruk, dan iblis laknatullah. Tiga perkara inilah yang menyebabkan aku melakukan maksiat. Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui atas apa yang aku katakan, maka ampunilah aku.
  2. Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa aku senantiasa berbuat maksiat, tentu tempatku pantas bersama para orang fasik. Tetapi, aku suka bergaul dengan para orang sholeh dan bertempat bersama mereka lebih aku suka daripada bersama orang-orang fasik.
  3. Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa aku lebih mencintai orang-orang sholeh daripada orang-orang fasik. Jika saja aku bertemu dengan seorang yang sholeh dan seorang yang fasik, maka aku lebih mengutamakan kepentingan orang sholeh dari pada orang fasik. 

Dalam riwayat Wahab bin Munabbih, si ahli maksiat itu berdoa lagi, "Wahai Tuhanku, jika Engkau mengampuni dan memaafkanku, maka para kekasih dan nabi-Mu akan ikut bahagia sedangkan setan dan musuh-musuh-Mu akan bersedih. Jika Engkau menyiksaku karena dosa-dosaku, maka setan akan bahagia sedangkan para kekasih dan nabi-Mu akan bersedih. Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kebahagian para kekasih-Mu lebih Engkau cintai daripada kebahagiaan setan, maka ampunilah aku. Ya Allah, Engkau mengetahui atas apa yang aku katakan, maka rahmati dan ampunilah aku".

Allah berkata kepada Nabi Musa as, "Maka Aku merahmati dan mengampuninya karena Aku adalah Maha Pengasih dan Penyayang, terutama kepada orang-orang yang mengakui dosanya kepada-Ku. Dan orang ini (si mayit) telah mengakui dosanya kepadaku, maka aku telah merahmati dan mengampuninya. Wahai Musa, lakukan apa yang telah aku perintahkan. Demi menghormatinya, sungguh aku akan mengampuni orang-orang yang mau menyolati dan menguburkannya". 

Nabi Musa dan penduduk kota pun segera mengurus jenazah si mayit tersebut, memandikan, mengafani, menyolati, lalu menguburnya.

Mudah-mudahan kisah ini menjadi inspirasi besar bagi kita untuk selalu berharap rahmat Allah dan mengakui dosa-dosa kepada-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada kita semua, juga kepada segenap orang-orang yang mau mengakui dosanya kepada-Nya.

__________________

Sumber : Kitab Al-Mawaidhul Ushfuriyyah, Hadist kedua

Penulis : Syekh Muhammad bin Abi Bakar.