Mengenal Malaikat Ruman dan Tugasnya

Mengenal Malaikat Ruman dan Tugasnya

Mengenal Malaikat Ruman dan Tugasnya - Allah SWT memiliki banyak malaikat yang tiada terhitung jumlahnya kecuali Dia sendiri yang mengetahui. Para malaikat memiliki tugas masing-masing, yang secara umum ditugaskan untuk mengatur hamba-hamba dan mengatur dunia.

Salah satu dari sekian banyak nama malaikat yang disebut-sebut dalam beberapa referensi kitab kuning adalah Malaikat Ruman. Memang tak banyak orang yang tahu dan mengenal malaikat satu ini dibanding dengan 10 malaikat yang wajib diketahui.


Siapakah Malaikat Ruman ?

Malaikat Ruman adalah malaikat yang ditugaskan mendatangi seorang mayit sebelum ia didatangi oleh Malaikat Munkar dan Nakir. Berbeda dengan kedua malaikat yang bentuknya dengan rupa yang menyeramkan, justru Malaikat Ruman berwajah cerah dan bersinar terang bak matahari.


Kisah Malaikat Ruman Menemui Mayit

Dalam sebuah riwayat dari Sahabat Abdullah bin Salam ra, dijelaskan bahwa Malaikat Ruman datang menemui mayit sebelum Malaikat Munkar dan Nakir. Lalu, ia duduk di dekat mayit dan berkata, "Tulislah apa yang telah kamu kerjakan di dunia, amal baik dan amal burukmu".

Si mayit pun bertanya, "Dengan apa aku akan menulis ? Di mana pena, tinta, dan wadah tintaku ?".

Malaikat Ruman lekas menjawab, "Ludahmu adalah tintamu dan jari-jarimu adalah penamu".

Si mayit pun bertanya lagi kepada Malaikat Ruman, "Di mana aku akan menulis sedangkan tidak ada lembaran yang bisa kutulis ?".

Mendengar hal itu, Malaikat Ruman pun merobek kain kafan si mayit menjadi sepotong robekan dan memberikannya seraya berkata, "Ini adalah lembaranmu, maka tulislah".

Si mayit itu pun segera menulis sesuai apa yang dipinta kepadanya, ia menulis kebaikan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. Namun, ketika telah sampai pada kesempatan untuk menulis keburukannya, si mayit pun terdiam karena merasa malu kepada Malaikat Ruman.

Melihat yang sedemikian rupa itu, Malaikat Ruman pun berkata, "Wahai orang yang berbuat dosa, mengapa kamu tidak malu kepada Penciptamu ketika kamu mengerjakannya di dunia dan sekarang kamu malu kepadaku ?".

Tanpa toleransi, Malaikat Ruman pun mengangkat sebuah tiang besar dan memukulkannya kepada si mayit.

Si mayit yang merasa kesakitan itu pun segera berkata, "Angkatlah tiang ini dariku sehingga aku menulis keburukanku”.

Dengan demikian, si mayit itu pun telah menulis semua amal perbuatannya di lembaran kain kafannya, baik kebaikan ataupun keburukannya.

Lalu, Malaikat Ruman memerintahkan si mayit untuk melipat lembaran itu kemudian menguncinya. Si mayit pun segera melipatnya, namun ia merasa kebingungan untuk menguncinya dan bertanya, "Dengan apa aku akan mengunci lembaran ini sedangkan aku tidak memiliki sebuah kunci ?".

Lalu, Malaikat Ruman pun menjawab, "Kuncilah lembaran itu dengan kukumu".

Lekas si Mayit pun mengunci lembaran itu dengan menggunakan kukunya. Sesuai perintah, ia juga menggantungkannya tepat di leher sampai hari kiamat tiba. Hal ini serupa dengan penjelasan dalam Firman Allah SWT :

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِيْ عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُوْرًا

"Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka" (Al-Isra' : 13).

Setelah mayit mencatatn semua amal perbuatannya pada lembaran potongan kain kafan, melipat, mengunci, lalu menggantungkannya di leher, maka datanglah Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir untuk memberikan pertanyaan kubur.

Demikianlah yang terjadi ketika hari kiamat tiba, Allah SWT memerintahkannya untuk membaca lembaran amal perbuatannya.

Si mayit yang ahli maksiat membaca setiap amal baiknya, namun ketika sampai pada amal buruknya, dia terdiam karena malu

Allah SWT pun berkata, "Mengapa kamu tidak membaca ?".

Si mayit yang ahli maksiat itu hanya bisa menjawab, "Aku malu kepada-Mu".

Lalu Allah SWT berkata, "Mengapa kamu tidak malu saat melakukannya di dunia dan sekarang kamu malu kepada-Ku ?".

Si mayit yang ahli maksiat itu pun menyesal dengan sepenuhnya, namun penyesalan tidak memberikan kemanfaatan padanya di hari itu. Lalu Allah SWT berkata :

خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُ، ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُ

"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala" (Al-Haqqah : 30-31).

________________________

Wallahu a'lam bis showab,

Sumber : Kitab Daqoiqul Akhbar, Bab 16.
Penulis : Imam Abdur Rochim bin Ahmad Al-Qadli.