Wujud dan Bentuk Buraq Nabi Muhammad SAW

Wujud dan Bentuk Buraq Nabi Muhammad SAW

Buraq merupakan hewan yang dikendarai Nabi Muhammad SAW ketika melakukan perjalanan Isra' Mi'raj, dari Masjidil Haram di Kota Mekkah sampai Masjidil Aqsha di Kota Yerusalem Palestina, yang ditempuh dalam waktu semalam, padahal pada masa itu belum ada kendaraan canggih seperti perawat atau jet sekarang.

Keberadaan Buraq merupakan sebuah keajaiban sekaligus pelajaran yang melekat dalam kisah-kisah dan sejarah islam yang harus menjadi keyakinan atas keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Untuk itulah di sini ada beberapa riwayat mengenai wujud, bentuk, dan kisah Buraq ketika hari kiamat telah ditegakkan.

Alasan Hewan Itu Dinamakan Buraq
Di dalam beberapa kitab kuning, para ulama' menuliskan Buraq ke dalam golongan "Dabbah" atau hewan melata. Sebagaimana namanya diambil dari kata "Barqun" yang artinya kilat, hewan tersebut dinamakan dengan istilah "Buraq" karena kecepatan lari dan terbangnya sangat cepat seperti kilat.

Wujud dan Bentuk Buraq
Adapun mengenai wujud dan bentuk Buraq, maka beberapa ulama' sendiri memiliki banyak riwayat, sebagaimana berikut ini :
  1. Buraq memiliki 2 sayap, kedua sayap itu digunakan untuk terbang berkeliling di antara langit dan bumi. Bentuk wajahnya seperti wajah manusia, lisannya seperti lisan orang Arab, kedua alisnya terlihat jelas, kedua tanduknya besar, kedua telinganya berbentuk tipis dan berasal dari batu Zamrud hijau, dan kedua matanya berwarna hitam.
  2. Saat terbang, Buraq terlihat seperti bintang jatuh yang bersinar, jambulnya dari batu Yaqut merah, dan ekornya seperti ekor sapi yang dilapisi dengan emas merah. 
  3. Jika dilihat dari segi keindahan, Buraq memiliki wujud sangat indah seperti burung merak, lebih tinggi dari khimar (keledai), dan lebih rendah dari bighal (peranakan kuda dengan keledai).

Kisah Buraq Setelah Dibangkitkan di Hari Kiamat
Buraq merupakan hewan melata pertama yang dibangkitkan setelah hari kiamat. Ia bertugas untuk melayani Nabi Muhammad SAW sebagai kendaraan pribadi kelak di akhirat, sebagaimana beberapa riwayat menyebutkan bahwa Beliau mengendarai Buraq saat memberikan syafaat kepada umatnya.

Baca juga :
Kisah Nabi Muhammad SAW Dibangkitkan di Hari Kiamat
Kisah Kematian Iblis Yang Mengenaskan di Hari Kiamat.

Beberapa saat setelah Nabi Muhammad SAW dibangkitkan, Buraq pun mendekat kepada Nabi SAW agar Beliau menaikinya. Namun setelah dekat, Buraq merasa gemetaran seraya berkata, "Wahai Malaikat Jibril, demi kemuliaan Tuhanku, tidak akan ada yang bisa menaikiku kecuali Nabi dari Bani Hasyim, dari daerah Abthah (tempat yang dekat dengan Mekkah), bersuku Quraisy, yaitu Nabi Muhammad SAW, sang pemilik Al-Qur'an".

Dengan penuh kerendahan diri, Nabi SAW hanya berkata, "Aku adalah Muhammad bin Abdullah". Nabi Muhammad SAW pun segera menaikinya lalu pergi menuju surga. Setelah Nabi Muhammad SAW sampai di sana, Beliau pun bersungkur dan bersujud.

Saat itu pula terdengarlah suara seruan, "Angkatlah kepalamu, wahai Muhammad, ini bukanlah hari ruku' dan bersujud tetapi ini adalah hari perhitungan amal dan hari pembalasan. Angkatlah kepalamu, dan mintalah maka kamu akan diberikan !".

Lalu Nabi SAW menjawab, "Wahai Tuhanku, aku meminta apa yang telah Engkau janjikan kepada umatku".

Allah SWT menjawab, "Aku akan memberimu apa yang bisa membuatmu ridlo (puas)", sebagaimana di dalam Firman Allah SWT :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى
"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas" (Ad-Dhuha : 5).

Setelah itu, Allah SWT memerintahkan langit agar menurunkan hujan yang berbentuk seperti air sperma pria selama 40 hari. Pada saat itu, air berada di atas setiap apapun mencapai ketiggian 12 zira' (1 dhira' sepanjang lengan orang Arab, 2 zira' panjangnya sekitar 1 meter).

Air itu pun membangkitkan para makhluk hingga badan-badan mereka menjadi sempurna sebagaimana mereka ada di dunia seperti tanaman sayur-sayuran yang tumbuh saat tersirami air hujan.

Kemudian Allah SWT mengganti bumi yang telah dirusak oleh orang-orang yang maksiat dengan bumi yang baru. Dia menyiram bumi itu dengan hamim (air panas) dari neraka Jahannam dan mendatangkan bumi baru yang terbuat dari perak putih lalu menyiraminya dengan air surga.

Dalam salah satu riwayat, Siti Aisyah ra, istri Nabi Muhammad SAW pernah bertanya, "Wahai Rosulullah, pada hari bumi digantikan dengan bumi lainnya, bagaimana keadaan manusia ?".

Nabi Muhammad SAW menjawab, "Wahai Aisyah, kamu bertanya tentang sesuatu yang besar, tak pernah bertanya kepadaku selain kamu. Sesungguhnya manusia berada di atas shirath (jembatan penghubung ke surga)".

Wallahu a'lam bisshowab

Sumber : Kitab Daqoiqul Akhbar, Bab 24.
Penulis : Imam Abdur Rochim bin Ahmad Al-Qodli.
Tanggapan :