Apakah Hewan Dibangkitkan dan Dihisab Di Hari Kiamat ?


Kehidupan manusia di dunia tidak akan luput dari pengawasan Allah SWT Yang Maha Mengawasi, baik kebaikan maupun keburukan, baik terang-terangan maupun samar, baik sengaja maupun tidak disengaja, karena semua yang ada di sekitar manusia kelak akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah dikerjakan.

Baca : 7 Saksi Manusia di Hari Kiamat.

Begitu pula halnya, setiap apapun pekerjaan dan perbuatan manusia di dunia, kelak akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat, lebih khusus perbuatan yang berkaitan dengan hubungan horizontal atau sesama makhluk, sebagaimana nasehat Luqman Al-Hakim kepada putranya di dalam Surat Luqman ayat 16 :
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ إِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
"(Luqman berkata): “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui" (Luqman : 16).

Apakah Hewan Dibangkitkan di Hari Kiamat ?

Berkaitan dengan pendahluan di atas, maka muncul sebuah pertanyaan sederhana apakah hewan juga akan dibangkitkan di Hari Kiamat kelak ?. Nah, dalam Kitab Mirqatus Su'udit Tashdiq (Syarah Kitab Sulamut Taufiq) karya Syekh Nawawi Al-Banteni dijelaskan sebagai berikut ini :
والحشر - هو عبارة عن سوقهم جميعا الى الموقف، وهو الموضع الذي يقفون فيه من ارض القدس المبدلة التى لم يعص الله عليها لفصل القضاء بينهم، ولا فرق في ذلك بين من يجازي وهم الإنس والجن والملك، ومن لا يجازي كالبهائم والوحوش علي ما ذهب اليه المحققون

"Hasyr (hari dikumpulkannya makhluk) - ada sebuah pengibaratan tentang digiringnya semua makhluk ke tempat berhenti, yaitu tempat yang mana mereka berhenti di dalamnya yang merupakan bumi qudus yang digantikan, yang mana tidaklah Allah tidak akan bermaksiat (mendholimi) di atasnya untuk memutuskan qadlo' di antara mereka. Tidaklah berbeda daiam hal itu, makhluk yang dibalas (amal perbuatannya) dan mereka adalah manusia, jin, dan malaikat. Dan makhluk yang tidak dibalas seperti hewan ternak dan hewan buas, menurut apa yang telah dimadzhabkan oleh ulama' ahli tahqiq".

Nah, berdasarkan keterangan di atas yang kumpulkan di mahsyar bukan hanya manusia, jin, dan malaikat saja, tetapi juga hewan-hewan. Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa ada ulama' yang berpendapat bahwa hewan juga akan dibangkitkan di Hari Kiamat kelak di akhirat.

Apakah Sesama Hewan Akan Saling Menuntut Balasan di Akhirat ?

Nah, terkait pembahasan ini, kadang terlintas sebuah pertanyaan sederhana di dalam pikiran kita, yaitu apakah kelak di akhirat hewan pun akan saling menuntut balasan satu dengan lainnya ?.

Kita tahu bahwa dunia binatang adalah dunia saling memangsa dan dimangsa, yang kuat akan tetap bertahan dan yang lemah akan mati, sehingga wajar jika satu hewan mendhalimi hewan lainnya. Sedangkan, kita tahu bahwa hewan diciptakan dengan dilengkapi 3 unsur, yaitu jisim (bentuk fisik), nafsu, dan insting untuk memangsa serta bertahan hidup.

Menanggapi jawaban untuk pertanyaan di atas, para ulama' sendiri berbeda pendapat, ada yang menyatakan bahwa sesama hewan tidak akan saling menuntut balasan kelak di akhirat. Karena pada dasarnya, hewan tidak dikarunia akal, berbeda dengan manusia yang dikaruniai akal untuk untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Jadi, tidak ada hukum bagi makhluk yang tidak memiliki akal.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa kelak di akhirat nanti hewan akan saling menuntut balasan, antara hewan yang didhalimi dan hewan yang terdhalimi. Dalam Kitab Daqoiqul Akhbar Bab 28, yang disusun oleh Imam Abdur Rochim bin Ahmad Al-Qadli, ada sebuah keterangan sebagai berikut ini :
ثم يقضى الله تعالى بين الوحوش والبهائم حتى يقضى للجماء من ذات القرن، ثم يقول الله تعالى للوحوش والبهائم كونوا ترابا، فعند ذلك يقول الكافر ياليتنى كنت ترابا
"Lalu Allah Ta'ala memberikan putusan (menghisab) kepada hewan-hewan buas dan hewan-hewan ternak, sampai Dia memberikan putusan pada sejenis domba/kambing dari golongan hewan yang memiliki tanduk. (Setelah semua selesai) lalu Allah SWT berkata kepada hewan-hewan buas dan hewan-hewan ternak, "Jadilah debu !". Pada saat itulah orang kafir mengatakan, "Seandainya aku menjadi debu !"".

Dari maqolah di atas, kalimat "الوحوش" (hewan-hewan buas) dan "البهائم " (hewan-hewan ternak), memiliki makna sample sederhana yang mewakili keseluruhan. Karena pada dasarnya hewan-hewan buas seperti srigala, harimau, ular, dan lainnya adalah hewan-hewan yang sering mendhalimi dan memangsa hewan-hewan ternak seperti domba, kambing, ayam, dan lainnya. Namun, kedua kalimat tersebut bisa saja bermakna semua hewan yang didhalimi oleh hewan lain, tidak hanya sebatas hewan buas dan hewan ternak saja.

Setelah semua hewan selesai menuntut balasan antara satu dengan lainnya, hewan yang didhalimi menuntut pertanggungjawaban dari hewan yang mendhalimi, maka semua hewan akan menjadi debu, tak ada hewan yang disiksa di neraka dan tak ada hewan yang mendapat nikmat di surga.

Para ulama' banyak berpendapat bahwa hanya ada 10 hewan saja yang nantinya akan memasuki surga, baca lebih lanjut : 10 Hewan Yang Akan Masuk Surga.

Kembali lagi pada maqolah di atas, salah satu alasan yang melatarbelakangi pendapat ini adalah bukan karena kepastian mutlak dalam menuntut balasan di antara sesama hewan, tetapi untuk menghancurkan harapan dan menambah kesedihan orang-orang kafir.

Kala mereka melihat para hewan menjadi debu, hati mereka semakin bertambah sedih yang bercampur berbagai macam penyesalan. Mereka mengandai-andai mengapa mereka dulu tidak dilahirkan sebagai hewan di dunia, sehingga mereka berkata, "seandainya aku menjadi debu !".

Tanggapan :