Kaidah I'lal 5, Lafadz يَغْزُوْ dan Lafadz غَازٍ

Kaidah I'lal 5, Lafadz يَغْزُوْ (Yaghzu) dan Lafadz Ghazin (غَازٍ)

Salah satu alasan mengapa tatanan lafadz bahasa Arab terjadi perubahan bentuk i'lalnya adalah karena untuk memudahkan pengucapan. Ya, para ulama' ahli bahasa telah menetapkan bahwa lafadz-lafadz yang berat dalam pengucapannya perlu diubah untuk memudahkan pelafalan.


Selengkapnya : Download Kitab Qawaidul I'lal dan Terjemah Lengkap.


Kaidah I'lal 5, Lafadz Yaghzu Asalnya Yaghyuwu

Adapun kaidah i'lal yang kelima ini, bisa dilihat dan dicermati pada kalimat di bawah ini yang diambil dari Kitab Qawaidul I'lal :

اِذَا تَطَرَّفَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ وَكَانَتَا مَضْمُوْمَةً اُسْكِنَتَا، نَحْوُ يَغْزُوْ وَيَرْمِيْ اَصْلُهُمَا يَغْزُوُ وَيَرْمِيُ

Tatkala ada huruf wawu dan huruf ya; berada di akhir kalimat, dan keduanya didhommah, maka keduanya disukun, contoh "يَغْزُوْ" dan "يَرْمِيْ" asalnya "يَغْزُوُ" dan "يَرْمِيُ".


Dari kaidah tersebut kita mengetahui bahwa :

  • ada huruf wawu (و) atau huruf ya' (ي) yang berposisi di akhir sebuah kalimat
  • huruf wawu (و) atau huruf ya' (ي) tersebut harus berharakat dlommah

Maka, harakat dlommah tersebut harus diganti menjadi harakat sukun (mati). Ini dikarenakan beratnya pengucapan dlommah menurut lisan arab.

Contoh :

Lafadz Asli
Lafadz I'lal (Hasil)
يَغْزُوُ
يَغْزُوْ
يَرْمِيُ
يَرْمِيْ


I'lal Lafadz غَازٍ (Ghazin)

Lafadz غَازٍ asalnya adalah غَازِوٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ

Berdasarkan kaidah 8, pada lafadz غَازِوٌ terdapat huruf wawu yang berada di akhir kalimat sedangkan harakat sebelumnya adalah kasrah, maka huruf wawu tersebut harus diganti menjadi huruf ya' sehingga menjadi lafadz غَازِيٌ. Alasannya adalah untuk memudahkan pengucapan karena huruf ya' selalu identik dengan harakat kasrah, sedangkan huruf wawu selau identik dengan dlommah.


Baca lebih lanjut : Kaidah I'lal 8, I'lal Lafadz رَضِيَ.


Berdasarkan kaidah i'lal 5 di atas, pada lafadz غَازِيٌ, terdapat huruf ya' yang berharakat dlommah dan berada diakhir kalimat, maka harakat dlommah tersebut harus diganti menjadi sukun, sehingga menjadi lafadz غَازِيْ.

Nah, karena lafadz غَازِيْ adalah isim (berbeda dengan 2 contoh kaidah 5 di atas, keduanya fi'il), maka untuk memudahkan pengucapan lisan, lafadz itu harus diubah menjadi lafadz غَازٍيْ.

Terakhir, pada lafadz غَازٍيْ terdapat tanwin dan sukun yang berkumpul dalam satu kalimat. Dalam istilah arab, ini disebut اِلْتِقَاءُ السَّاكِنَيْنِ (bertemunya 2 huruf mati), maka huruf ya' harus dibuang karena alasan اِلْتِقَاءُ السَّاكِنَيْنِ (bertemunya 2 huruf mati) sehingga menjadi lafadz غَازٍ.

Jadi :

Lafadz Asli
Perubahan 1
Perubahan 2
Lafadz I'lal (Hasil)
غَازِوٌ
غَازِيٌ
غَازٍيْ
غَازٍ

Contoh lain :

Lafadz Asli
Perubahan
Lafadz I'lal (Hasil)
سَارِيٌ
سَارٍيْ
سَارٍ



Tanggapan :