Keutamaan "La Ilaha Illallah" Sebagai Benteng dan Penyelamat


Kalimat "la ilaha illallah" merupakan kalimat tauhid yang di dalamnya menyimpan nilai-nilai keesaan Allah SWT sebagai Tuhan yang tiada tanding, tiada sesuatupun yang dapat menyamai dan menyekutukan-Nya. Allah SWT berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

"Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya" (Asy-Syura : 11).

Keutamaan "La Ilaha Illallah" Sebagai Benteng dan Penyelamat

Kalimat "la ilaha illallah" bukan hanya kalimat yang hanya memberikan pahala bagi muslim yang mau membacanya, tetapi hakekatnya kalimat itu dapat menyelamatkan manusia dari api neraka dan juga sebagai benteng dari siksa. Adapun di sini ada beberapa hadits yang terkait dengan pembahasan pada topik yang khusus ini :

Dalam Kitab Mawaidzul Ushfuriyah, Hadits 5, dijelaskan bahwa Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari pernah bertanya Rasulullah SAW :

يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ عَلَّمَنِيْ عَمَلًا يُقَرِّبُنِيْ اَلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِيْ مِنَ النَّارِ

"Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku amalan yang bisa mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka ?"

Rasulullah SAW menjawab :

إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاتَّبِعْهَا حَسَنَةً

"Ketika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah keburukan itu dengan kebaikan".

Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari bertanya lagi :

أَمِنَ الْحَسَنَاتِ قَوْلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهِ

"Apakah salah satu dari kebaikan-kebaikan itu adalah ucapan "la ilaha illallah" ?"

Rasulullah SAW pun menjawab :

نَعَمْ هَيَ أَحْسَنُ الْحَسَنَاتِ

"Iya, itu adalah sebaik-baik kebaikan".


Dalam sebuah hadits qudsi yang dikutip dari Kitab Lubabul Hadits, Bab 2, Allah SWT berfirman :

قَالَ اللهُ تَعَالٰى لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ كَلَامِيْ وَاَنَا هُوَ مَنْ قَالَهَا دَخَلَ حِصْنِيْ وَمَنْ دَخَلَ حِصْنِيْ اَمِنَ مِنْ عِقَابِ

Allah Ta'ala berfirman, ““La Ilaha Illallah” adalah firman-Ku, dan Aku adalah Dia (Allah), barang siapa yang mengucapkannya maka dia akan masuk ke dalam benteng-Ku (penjagaan-Ku), dan barang siapa masuk dalam benteng-Ku maka dia akan aman dari siksa-Ku””.


Kisah 7 Batu Yang Menutup Pintu Neraka, Malaikat Tak Kuat Mengangkatnya

Ada sebuah kisah menarik yang menjelaskan seseorang yang sedang wukuf di Arafah. Ia memegang 7 batu di tangannya lalu berkata kepada ketujuh batu itu, "Bersaksilah kalian tentangku di sisi Tuhan kita bahwa sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah".

Sesaat, orang itu tertidur dan bermimpi seolah-oleh hari kiamat telah terjadi. Dan setelah dihisab, ia tergolong sebagai penghuni neraka. Malaikat pun menyeretnya menuju neraka dan hendak memasukkannya ke dalam neraka.

Sesampai di neraka, ternyata ada batu besar yang menutupi pintu neraka dan batu itu adalah salah satu dari ketujuh batu. Lalu, para malaikat siksa mencoba untuk mengangkatnya, tetapi mereka tidak mampu mengangkat dan menyingkirkan batu itu dari pintu neraka.

Akhirnya, para malaikat hendak memasukkan orang itu ke pintu neraka lainnya. Namun hal yang sama pun terjadi, ketujuh pintu neraka tertutupi oleh masing-masing tujuh batu besar dan mereka semua tak mampu mengangkat batu-batu itu.

Merasa kebingungan, para malaikat pun membawa orang itu menuju ke bawah Arsy, lalu malaikat memohon pertolongan kepada Allah SWT, "Wahai Tuhan kami, Engkau mengetahui perkara hamba-Mu, sesungguhnya kami tidak menemui jalan baginya ke neraka ?".

Allah SWT pun berkata, "Wahai hamba-Ku, kamu telah bersaksi pada batu-batu itu lalu batu-batu itu tdaklah menyia-nyiakan hakmu. Maka bagaimana Aku akan menyia-nyiakan hakmu sedangkan Aku Maha menyaksikan atas kesaksianmu". 

Lalu Allah SWT memerintahkan malaikat untuk memasukkan orang itu ke dalam surga, "Masukkanlah dia ke surga".

Malaikat pun membawa orang itu menuju surga dan hendak memasukkan orang itu ke dalam surga. Namun, pintu-pintu surga terkunci, lalu datanglah kalimat syahadat "la ilaha illallah" sebagai kunci pembukanya. Pintu surga pun terbuka dan orang itu memasuki surga.

Kisah ini berkesesuaian dengan hadits Nabi SAW di atas dan juga hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Muadz bin Jabal ra di bawah ini :

مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ شَهَادَةُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهِ

"Kunci surga adalah penyaksian bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah".

Sumber : Kitab Mawaidzul Ushfuriyah, hadits 5, karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri,


Kisah Raja Kafir Yang Dholim Selamat Karena "La Ilaha Illallah"

Dikisahkan dari Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzani, dahulu ada seorang raja yang dengan terang-terangan berani menentang Allah SWT. Akibatnya, orang-orang islam pun resah melihat prilaku raja itu dan mereka memeranginya.

Hasil akhir dari konflik tersebut dimenangkan oleh orang-orang islam, mereka menangkap sang saja dholim itu dalam keadaan hidup. Mereka berkata, "Dengan cara bagaimana kita akan membunuhnya karena ia telah menentang Allah SWT ?".

Setelah melakukan musyawarah, akhirnya mereka bersepakat untuk memasukkan si raja kafir yang dholim ke dalam sebuah kendil besar. Mereka mengikat kepada si raja kafir itu agar tidak dapat melepaskan diri, lalu menyalakan api di bawah kendil besar tersebut.

Ketika si raja kafir yang dholim itu mulai merasakan panas api di dalam kendil besar, ia pun meminta pertolongan kepada berhala-berhala yang ia sembah, "Wahai lata, selamatkanlah aku. Wahai habal, selamatkanlah aku. Wahai uzza, selamatkanlah aku dari sesuatu yang mana aku di dalamnya. Wahai habal, aku telah mengusap kepalamu dan aku telah melayanimu selama sekian dan sekian tahun".

Setiap kali si raja kafir yang dholim itu meminta pertolongan kepada berhala-berhala, semakin pula api bertambah panas hingga ia menyadari bahwa berhala-berhala yang ia sembah tak akan dapat memberi pertolongan kepadanya. 

Dalam detik-detik keputusasaan itu, ia mencoba untuk kembali kepada Allah SWT. Si raja itu menyeru dengan keras di dalam kendil besar memohon pertolongan kepada Allah SWT, "la ilaha illallah muhammadur rasulullah". 

Pada saat itulah, Allah SWT mendengar permohonannya, Dia menurunkan air hujan dari langit dan mematikan api yang menyala di bawah kendil besar. Lalu Allah SWT mendatangkan angin besar dan menerbangkan kendil besar yang di dalamnya terdapat si raja. Sementara, tak henti-hentinya si raja itu mengucapkan "la ilaha illallah muhammadur rasulullah" dengan harapan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, hingga hilang dari pandangan mata. 

Angin itu menerbangkan dan menurunkan kendil besar di antara kaum yang tidak mengenal Allah SWT. Ketika mereka melihat sebuah kendil besar jatuh dari atas langit, mereka mencoba mendekatinya, memeriksa, dan membukanya.

Ternyata mereka mendapati seseorang berada di dalam kendil besar itu. Ya, mereka pun melepas ikatan dari kepala si raja dan mengeluarkannya dari dalam kendil besar. Lalu mereka bertanya, "Siapa kamu dan bagaimana kisahmu ?". 

Si raja itu pun menjawab, "Aku adalah seorang raja di suatu tempat di daerah ini". Lalu si raja itu menceritakan kisahnya kepada mereka dan mereka memeluk pun islam setelah mendengar kisah itu.

Sumber : Kitab Mawaidzul Ushfuriyah, hadits 7, karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri


Wallahu a'lam bis showab,

Tanggapan :