Kisah Ibrahim bin Adham Dipukul Oleh Budaknya

Kisah Ibrahim bin Adham Dipukul Oleh Budaknya

Kisah Ibrahim bin Adham Dipukul Oleh Budaknya - Ibrahim bin Adham merupakan salah satu tokoh sufi ahli zuhud yang qaul mutiara dan perbuatannya banyak ditukil di beberapa kitab kuning dan maqolah para ulama'. Sebelum bertaubat, Ibrahim bin Adham adalah putra dari seorang raja atau bangsawan yang hidup mewah, namun beliau memilih jalan zuhud setelah bertaubat kepada Allah SWT.

Baca selengkapnya : Kisah Ibrahim bin Adham Bertaubat Kepada Allah SWT.

Kisah Ibrahim bin Adham Dipukul Oleh Mantan Budaknya

Sebelum Ibrahim bin Adham bertaubat kepada Allah SWT, beliau mempunyai budak sebanyak 72 orang. Tentu saja hal ini wajar, mengingat beliau adalah keturunan seorang bangsawan yang senantiasa hidup mewah. Namun, setelah beliau bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT, beliau memerdekakan semua budak-budaknya.

Pada suatu ketika, ada seorang dari mantan-mantan budak itu bertemu Ibrahim bin Adham dalam keadaan mabuk setelah meminum khamr. Tentu saja khamr yang telah ia minum membuatnya dalam keadaan setengah sadar.

Dalam perjumpaan itu, si mantan budak berkata kepada Ibrahim bin Adham yang tidak ia kenali karena keadaan setengah sadar, "Wahai fulan, tunjukkanlah aku jalan pulang ke rumahku". Dengan santainya Ibrahim bin Adham pun menjawab, "Iya".

Ibrahim bin Adham pun mengantar pria yang sedang menaiki kuda sembari dalam keadaan mabuk itu. Namun, bukan malah diantar ke rumah, tetapi ia diantar ke sebuah kuburan. Tentu saja melihat kuburan, pria yang sedang mabuk itu pun memukul Ibrahim bin Adham dengan sangat keras menggunakan cambuknya.

Lalu si mantan budak itu berkata, "Aku mengatakan agar kamu menunjukkanku jalan ke rumah, tetapi kamu malah menunjukkanku ke kuburan".

Meski terasa sakit, Ibrahim bin Adham masih dengan santainya menjawab, "Wahai orang yang mabuk, wahai orang yang sedikit akalnya, rumah ini adalah rumah hakekat dan rumah selainnya hanyalah sebuah kiasan".

Semakin bertambah emosi, si mantan budak itu pun memukul Ibrahim bin Adham lagi dan lagi. Dan setiap kali beliau mendapati cambukan dari mantan budaknya, beliau mengatakan, "Semoga Allah SWT mengampunimu".

Tak lama kemudian, datanglah seseorang lainnya menghampiri, lalu ia berkata, "Wahai fulan, apa yang kamu lakukan ? kamu memukul tuanmu yang telah memerdekakanmu ?".

Berhenti mencambuk, si mantan budak yang setengah sadar itu bertanya kepada orang itu, "Siapa dia ?".

Orang itu pun menjawab, "Sesungguhnya dia adalah tuanmu yang telah memerdekakanmu, yaitu Ibrahim bin Adham".

Ketika si mantan budak mengetahui bahwa orang yang dicambuknya adalah tuannya, ia lekas turun dari kudanya dan meminta maaf kepada Ibrahim bin Adham. Lagi-lagi, Ibrahim bin Adham dengan santainya menjawab, "Aku menerima dan memaafkanmu".

Lalu si mantan budak itu bertanya, "Wahai tuanku, aku telah memukulmu dan menyakitimu, tetapi mengapa kamu malah mendoakanku dengan doa yang baik, kamu berdoa di setiap pukulan, "Semoga Allah SWT mengampunimu" ?".

Ibrahim bin Adham pun menjawab, "Bagaimana aku tidak mendokanmu dengan doa yang baik, justru cambukanmu dan caramu menyakitiku itulah yang menjadi sebab bagiku untuk menuju surga".

Kisah di atas merupakan salah satu lelaku para kekasih Allah SWT, tetap berbuat baik kepada orang yang telah menyakitinya, sebagaimana dalam sebuah riwayat khobar dari Ikrimah mantan budak Sahabat Ibnu Abbas ra :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ سَتَرَ اللّٰهُ بَيْنَ عَبْدٍ وَبَيْنَ كُلِّ النَّاسِ فَيُدْفَعُ إِلَيهِ كِتَابُ حَسَنَاتِهِ فَيَقْرَؤُهُ، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى : مَا تَرَى، فَيَقُوْلُ : أَرَى حَسَنَاتٍ كَثِيْرَةً، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى : هَلْ نَقَصَ مِنْهَا شَيْئٌ، فَيَقُوْلُ : لَا، ثُمَّ يُدْفَعُ إِلَيْهِ كِتَابُ سَيِّئَاتِهِ فَيَقْرَؤُهُ، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى : مَا تَرَى، فَيَقُوْلُ : أَرَى سَيِّئَاتٍ كَثِيْرَةً، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى : أَتَعْرِفُهَا، فَيَقُوْلُ : نَعَمْ، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى : هَلْ زِيْدَ عَلَيْكَ شَيْئٌ، فَيَقُوْلُ : لَا، ثُمَّ يُدْفَعُ إِلَيْهِ رُقْعَةٌ فَيَقْرَؤُهَا، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى : مَا تَرَى، فَيَقُوْلُ : أَرَى حَسَنَاتٍ كَثِيْرَةً، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى : أَتَعْرِفُهَا، فَيَقُوْلُ : لَا، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالٰى لَهُ : هَذَا مِمَّا ظَلَمُوْكَ وَآذَوْكَ وَأَخَذُوْا مَا لَكَ مِنْ غَيْرِ عِلْمِكَ

"Ketika hari kiamat telah tiba, Allah Ta'ala menutup (merahasiakan) di antara seorang hamba dan setiap manusia. Lalu catatan amal kebaikannya diberikan kepadanya, ia pun membacanya. Lalu Allah Ta'ala bertanya, "Apa yang kamu lihat ?". Ia menjawab, "Aku melihat kebaikan yang banyak". Lalu Allah Ta'ala bertanya, "Apakah ada sesuatu (kebaikan) yang kurang dari kebaikan itu ?". Ia menjawab, "Tidak". Kemudian diberikanlah catatan amal keburukan padanya, ia pun membacanya. Lalu Allah Ta'ala bertanya, "Apa yang kamu lihat ?". Ia menjawab, "Aku melihat keburukan yang banyak". Lalu Allah Ta'ala bertanya, "Apakah kamu mengetahuinya ?". Ia menjawab, "Iya". Lalu Allah Ta'ala bertanya, "Apakah ada sesuatu (keburukan) yang ditambah bagimu ?". Ia menjawab, "Tidak". Kemudian diberikalah sebuah lembaran padanya, ia pun membacanya. Lalu Allah Ta'ala bertanya, "Apa yang kamu lihat ?". Ia menjawab, "Aku melihat kebaikan yang banyak". Allah Ta'ala bertanya, "Apa kamu mengetahuinya ?". Ia menjawab, "Tidak". Lalu Allah Ta'ala berkata padanya, "Ini merupakan pahala yang mana orang-orang menganiaya, menyakitimu, dan mengambil apa yang menjadi milikmu tanpa sepengetahuanmu"".

Wallahu a'lam.

Sumber : Kitab Al-Mawaidzul Ushfuriyah, Hadits 27.

Karya : Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfury.

Tanggapan :