Pembagian Hadits Dari Segi Jumlah Rawi (Mutawatir dan Ahad)

Klasifikasi Hadits Dari Segi Jumlah Rawi

Klasifikasi atau pembagian hadits dari segi jumlah banyak atau sedikitnya rawi yang meriwayatkan hadits tersebut, maka dibagi menjadi 2 bagian, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad.

PERTAMA, HADITS MUTAWATIR (الْحَدِيْثُ الْمُتَوَاتِرُ)
Adapun mengenai pengertian, klasifikasi (pembagian), contoh, dan kedudukan hadits mutawatir, maka sudah dijelaskan pada posting sebelumnya : Pengertian, Pembagian, dan Contoh Hadits Mutawatir.

KEDUA, HADITS AHAD (الْحَدِيْثُ الْاَحَدُ)

Pengertian Hadits Ahad
Menurut bahasa, ahad berarti satu, sedangkan belum ada kejelasan secara spesifik mengenai pengertian hadits ahad. Namun, para ulama' ahli hadits menjelaskan bahwa hadits ahad merupakan hadits yang tidak mencapai derajat hadits mutawatir, meskipun rawinya ada satu, dua, tiga, dan seterusnya.

Klasifikasi atau Pembagian Hadits Ahad
Adapun pembagian hadits ahad, maka dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Hadits Masyhur (الْحَدِيْثُ الْمَشْهُوْرُ)
Hadits Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh 3 rawi atau lebih, meskipun dalam satu thabaqah (tingkatan), tetapi belum mencapai derajat mutawatir.

Adapun lebih jelasnya lagi, terkait pengertian, pembagian, dan contoh Hadits Masyhur, maka bisa dilihat pada link berikut : Pengertian dan Contoh Hadits Masyhur.

2. Hadits Aziz (الْحَدِيْثُ الْعَزِيْزُ)
Menurut bahasa, Aziz berarti mulia. Sedangkan menurut istilah, Hadits Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh 2 rawi meskipun 2 rawi tersebut terdapat pada satu thabaqah (tingkatan). Contoh hadits yang diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sahabat Anas bin Malik ra :
لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
"Tidaklah beriman salah satu dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtua, anak, dan semua manusia".

Hadits tersebut diriwayatkan dari Qatadah dan Abdul Aziz bin Syuhaib, dari Sahabat Anas bin Malik. Kemudian Syu'bah dan Said meriwayatkannya dari Qatadah, sedangkan Ismail dan Ulaiyyah meriwayatkannya dari Abdul Aziz bin Syuhaib. Setelah itu, banyak orang meriwayatkan hadits tersebut dari masing-masing rawi.

3. Hadits Gharib (الْحَدِيْثُ الْغَرِيْبُ)
Hadits Gharib adalah hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang menyendiri (gharib). Lebih lengkapnya mengenai pengertian, pembagian, dan contoh-contoh Hadits Gharib, bisa dlihiat pada link berikut ini : Pengertian dan Contoh Hadits Gharib.
Kedudukan Hadits Ahad
Berbeda dengan Hadits Mutawatir yang dipastikan hampir mencapai seratus persen bahwa hadits tersebut sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW, sedangkan Hadist Ahad belum bisa dipastikan kemurniaanya berasal dari Rasulullah SAW.

Dengan kata lain, meskipun Hadits Ahad memang diyakini berasal dari Rosulullah SAW, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa hadits tersebut bisa jadi tidak berasal dari Rosulullah SAW. Artinya, perbedaan derajat antara Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad berbeda jauh, sehingga derajat Hadits Ahad pun masih berada di bawah Hadits Mutawatir sebagai dasar, dalil, pedoman, dan hujjah hukum syariat.

Dan misalnya saja ada sebuah Hadits Ahad yang mana kalimat dan maknanya jelas-jelas sudah pasti bertentangan dengan Hadits Mutawatir, maka jelas saja Hadits Ahad tersebut tidak bisa diterima alias ditolak.

Baca lebih lanjut : Kumpulan Materi Ilmu Hadits.