5 Macam Cara Bertawassul (Washilah)

5 Macam Cara Bertawassul (Washilah)

Tawassul atau washilah merupakan sebuah permohoan kepada Allah SWT dengan melalui perantara segala yang Dia cintai, baik dengan niat agar terijabahnya doa atau mendekatkan diri kepada-Nya. Tawassul atau washilah memiliki peran yang sangat penting sebagai mana yang disebutkan, yang mana sebagai muslim berfaham ahlus sunnah wal jamaah pastilah tidak akan mengingkari hukum bertawassul atau berwashilah.

Baca lebih jelas : Pentingnya Melakukan Tawassul (Washilah) Dalam Berdoa.

Nah, bertolak belakang dari pengertian di atas, washilah (perantara) dalam berdoa kepada Allah SWT meliputi segala hal yang Dia cintai. Pasalnya, Allah SWT mencintai hamba-hamba yang bisa mencintai apapun yang Dia cintai. Dengan demikian, upaya bertawassul atau berwashilah dapat digolongkan sebagaimana berikut ini :

1. Tawassul (Washilah) Melalui Hamba-Hamba Yang Dicintai Allah SWT
Allah SWT memiliki hamba-hamba yang dekat dan dicintai oleh-Nya, di mana Dia telah menumpahkan rahmat dan berkah-Nya melalui perantara mereka, sehingga berang siapa yang mau mendekat dan menjadikan mereka sebagai perantara dalam berdoa maka ia akan memperoleh percikan rahmat dan berkah dari-Nya.

Di antara hamba-hamba yang dekat dan dicintai Allah SWT adalah Rasulullah SAW, para nabi dan rasul lainnya, para sahabat, para waliyullah, para ulama', para malaikat, dan lain sebagainya. Golongan ahlus sunnah wal jamaah mengajarkan bahwa bertawassul atau berwashilah melalui mereka adalah sesuatu yang sangat dianjurkan, baik untuk niat mendekatkan diri kepada Allah SWT ataupun niat untuk mendatangkan hajat.

Dasar yang digunakan, salah satunya adalah sebuah khabar yang diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik ra, dari Sahabat Umar bin Khattab :
كَانَ اِذَا قُحِطُوْا اِسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ الْمُطَلِّبِ، فَقَالَ : اَللّٰهُمَّ اِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَاِنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا، قَالَ : فَيُسْقَوْنَ
"Ketika orang-orang dilanda kemarau panjang, maka Sahabat Umar bin Khattab meminta hujan dengan perantara Sahabat Abbas bin Abdul Muthalib. Dia (Sahabat Umar bin Khattab) berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya kami (memohon dan) menjadikan perantara kepada-Mu melalui nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami. Dan sesungguhnya kami (memohon dan) menjadikan perantara kepada-Mu melalui paman nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami". Rowi berkata, "kemudian mereka diturunkan hujan""

Adapun dasar-dasar yang menjelaskan poin ini, maka sudah ada posting khusus yang lebih detail dan panjang, baik berwashilah atau bertawassul melalui Nabi SAW ataupun melalui selain beliau, baca lebih lenjut : Pengertian dan Dasar Hukum Tawassul (Washilah).

2. Tawassul (Washilah) Melalui Amal Yang Diridloi Allah SWT
Selanjutnya, bertawassul (berwashilah) dengan mengatasnamakan amal perbuatan yang diridloi oleh Allah SWT, sebagaimana sebuah kisah dalam salah satu hadits Nabi SAW shahih yang menceritakan tentang 3 orang yang terjebak di dalam goa. Apapun usaha yang mereka lakukan untuk membuka batu besar yang menutupi pintu goa pun tidak berhasil. Sampai akhirnya mereka berdoa kepada Allah SWT dengan tawassul melalui amal perbuatan baik masing-masing.

Adapun hadits dan ceritanya sudah dituliskan dalam sebuah posting khusus, silahkan baca kisahnya lebih lanjut : Kisah 3 Orang Yang Terjebak di Dalam Goa.

3. Tawassul (Washilah) Melalui Tempat-Tempat Yang Dimuliakan Allah SWT
Allah telah menjadikan beberapa tempat di dunia ini sebagai tempat yang dimuliakan di sisi-Nya, bahkan tak jarang Dia pun bersumpah di dalam ayat-ayat Al-Qur'an dengan menyebut tempat-tempat yang Dia muliakan. Di antara tempat-tempat itu, misalnya adalah Kota Mekkah, Kota Madinah, Gunung Turisina, Baitullah (Ka'bah), Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, dan lain-lainnya.

Baca juga : 3 Masjid Yang Istimewa di Sisi Allah SWT, Ini Alasannya.

Sehingga, tempat-tempat mulia di sisi Allah SWT itu dapat dijadikan sebagai washilah (perantara) dalam berdoa, baik untuk mendatangkan sebuah hajat ataupun untuk mendekatkan diri pada-Nya. Nah, salah satu hadits yang bisa dijadikan dasar dalam poin ini adalah sebagai berikut :
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : الْمُلْتَزَمُ مَوْضِعٌ يُسْتَجَابُ فِيْهِ الدُّعَاءُ وَمَا دَعَا اللّٰهَ فِيْهِ عَبْدٌ دَعَوَةً اِلَّا اسْتَجَابَ لَهُ
"Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, aku mendengar Rosulullah SAW bersabda, "Multazam adalah tempat yang dikabulkan ketika berdoa di dalamnya, dan tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah di dalamnya kecuali dikabulkan doa baginya".

Selain itu, setiap kali Sahabat Ibnu Abbas ra meriwayatkan hadits di atas, beliau selalu berkata :
فَوَ اللّٰهِ مَا دَعَوْتُ اللّٰهَ فِيْهِ قَطُّ مُنْذُ سَمِعْتُ هٰذَا الْحَدِيْثِ اَلَّا اسْتَجَابَ لِيْ
"Maka demi Allah, aku tidak pernah sekalipun berdoa kepada Allah di dalamnya (Multazam) sejak aku mendengar hadits ini, kecuali Allah mengabulkan doaku".

Hadits tentang keistimewaan Multazam tentu berhubungan dengan tawassul. Jika kita cermati, apakah yang menjadikan terkabulkannya doa adalah Multazam itu sendiri ? tentu tidak, karena hanya Allah SWT yang mengabulkan doa. Namun, Dia memuliakan Multazam sehingga berdoa di sana pun lebih dekat terijabahinya doa, semua karena tumpahan kemuliaan Allah SWT yang meresap di dalam tempat itu.

Begitu juga halnya, para jamaah haji dan umrah percaya bahwa berdoa di Baitullah (Ka'bah) lebih diijabahi, alasannya tentu sama dengan alasan yang dijelaskan mengenai Multazam di atas. Dengan demikian, bertwassul (berwashilah) melalui tempat-tempat yang mulia di sisi Allah SWT, juga merupakan kebolehan menurut golongan yang berfaham ahlus sunnah wal jamaah.

4. Tawassul (Washilah) Melalui Waktu-Waktu Yang Dimuliakan Allah SWT
Tak hanya tempat saja, Allah SWT juga menjadikan waktu-waktu mulia yang dikhususkan bagi umat Rasulullah SAW, di antaranya adala malam Lailatul Qadar, malam Nisfu Sya'ban, Hari Jum'at, dan lain sebagainya.

Berdoa melalui perantara waktu-waktu yang dimuliakan Allah SWT pun sangat dianjurkan. Dan perlu diingat bahwa hakekat yang mengabulkan doa hanyalah Allah SWT semata, namun Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang mau hormat kepada waktu-waktu yang Dia muliakan, dengan melakukan amal-amal baik, sholat, dzikir, dan sebagainya. Berdoa dengan mengatasnamakan waktu-waktu itu menjadikan lebih dekat pada terijabahi dan

Ada sebuah kisah menarik yang menunjukkan keistimewaan bertawassul melalui waktu-waktu mulia. Baca kisahnya lebih lanjut :
Kisah Ulama' Bebas Dari Siksa Kubur Berkah Malam Nisfu Sya'ban
Kisah Muallaf Inspiratif - Balasan Tak Terduga Karena Bekerja Untuk Allah.

5. Tawassul (Washilah) Melalui Benda-Benda Yang Dimuliakan Allah SWT
Manfaat dan madharat dari sebuah benda, hakekatnya bukan dari benda itu, tetapi karena Allah SWT. Sebagaimana sebuah pil atau kapsul tertentu yang diminum oleh seseorang dengan harapan dia bisa sembuh dari sakitnya. Ya, hakekat yang menyembuhkan bukanlah pil atau kapsul itu, pil atau kapsul hanya sebuah perantara, tetapi semua kesembuhan itu terjadi atas izin Allah SWT. Jadi, kebaikan atau keburukan dalam hal ini tergantung bagaimana tiap orang meyakini hal ini.

Dalam konteks tawassul, berdoa dengan perantara benda-benda yang dimuliakan oleh Allah SWT pun tidak jauh berbeda dari penjelasan di atas. Sebagaimana sebuah khabar yang menceritakan Sahabat Umar bin Khattab ra mencium Hajar Aswad :
عَنْ عَابِسٍ ابْنِ رَبِيْعَةَ قَالَ، رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُوْلُ إِنِّيْ لَأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلَا أَنِّيْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ
"Dari 'Abis bin Rabiah berkata, aku melihat Sahabat Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad dan dia berkata, "Sesungguhnya aku menciummu dan aku mengetahui bahwa kamu hanyalah sebuah batu, jika saja sesungguhnya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, maka aku tidak akan menciummu"".

Dalam Kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Ghazali dijelaskan bahwa ketika Sahabat Ali bin Abi Thalib mendengar perkataan itu dari, beliau menyangga :
فَقَالَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ : بَلْ هُوَ يَضُرُّ وَ يَنْفَعُ، فَقَالَ : وَكَيْفَ ؟ قَالَ : إِنَّ اللّٰهَ تَعَالٰى لَمَّا أَخَذَ الْمِيْثَاقَ عَلَى الذُّرِّيَّةِ كَتَبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ كِتَابًا ثُمَّ أَلْقَمَهُ هَذَا الْحَجَرَ، فَهُوَ يَشْهَدُ لِلْمُؤْمِنِ بِالْوَفَاءِ، وَ يُشْهِدُ عَلَى الْكَافِرِ بِالْجُحُوْدِ
"Sahabat Ali bin Abi Thalib berkaa, "Tetapi batu itu bisa memberi manfaat dan madharat (atas izin Allah SWT)". Sahabat Umar bin Khattab bertanya, "Bagaimana bisa ?". Sahabat Ali bin Abi Thalib menjawab, "Sesungguhnya ketika Allah Ta'ala mengambil perjanjian kepada keturunan Nabi Adam, Allah menulis mereka di dalam sebuah kitab amal, kemudian Dia memasukkannya pada batu ini. Batu itu memberikan kesaksian kepada orang mukmin dengan menepati janji dan memberi kesaksian kepada orang kafir dengan keingkaran".

Dengan demikian, mau tidak mau, Hajar Aswad hanyalah sebuah batu, tetapi ia bisa memberikan kemanfaatan dan kemadharatan atas izin Allah SWT. Dengan alasan inilah mengapa Rasulullah SAW juga mencium Hajar Aswad, sebagaimana dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas ra :
وَاللّٰهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ يَشْهَدُ عَلَى مَنِ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ
"Demi Allah, Allah akan membangkitkannya di hari kiamat, dia memiliki 2 mata yang bisa melihat dengan keduanya dan lisan yang bisa berbicara dengan lisan itu, dia bersaksi kepada orang yang istilam (menyentuh dan mencium Hajar Aswad) dengan kebenaran".

Untuk itulah, mengapa setiap muslim yang sedang melakukan istilam (menyentuh dan mencium Hajar Aswad) biasanya diiringi dengan doa berikut ini :
بِسْمِ اللهِ ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُمَّ إِيْمَاناً بِكَ ، وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ ، وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, menepati janji-Mu, dan mengikuti nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW".